Bianglala


Kampung Halaman

Posted in Life by Dhani on the November 20th, 2003

Punyakah saya kampung halaman? Saya mungkin bisa mengklaim Kotogadang di Sumatera Barat sebagai kampung halaman saya, atau minimal tempat nenek-moyang saya berasal. Tapi saya toh belum pernah menginjakkan kaki disana. Dan jikalau suatu saat saya berkesempatan untuk berkunjung kesana, terus terang saya sangsi apakah masih akan bertemu dengan seseorang yang masih saya kenal dan punya hubungan saudara.

Mungkin untuk praktisnya saya bisa menyebut Kupang sebagai darah asal saya. Tapi, disamping saudara jauh yang jumlahnya tinggal segelintir, paling-paling disana saya hanya akan menjumpai pusara kakek-nenek saya yang kesemuanya sudah tiada. Atau bagaimana dengan Kediri, kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan pabrik rokok Gudang Garamnya itu? Tapi disitupun saya hanya akan menemukan rumah sakit tempat saya dilahirkan. Saya tidak punya sanak saudara atau siapapun juga di kota itu.

Akhirnya, pulau Bali juga yang menjadi tujuan ‘mudik’ saya tahun ini. Di pulau ini saya memang pernah menetap dan menghabiskan sebagian masa kecil saya (sebagian lagi saya lewatkan di Bandung). Di pulau ini juga ayah saya hingga kini masih bertugas sebagai pegawai negeri.

Bali memang bukan kampung halaman saya, juga bukan daerah asal atau tempat kelahiran. Tapi esensi mudik adalah silaturahmi. Menjenguk orang-orang tersayang, bermaaf-maafan dan bersama melewatkan hari raya. Bukan untuk menjenguk daerah asal, kampung halaman, atau tempat kelahiran. Kalau ada yang bertanya, saya orang mana, dan dimanakah letak kampung halaman saya, maka jawaban saya lugas saja: Indonesia.

Selamat berlebaran. Taqabballaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.

Simfoni Nomor 9

Posted in Art by Dhani on the November 15th, 2003

Dari dunia musik klasik. Pernah mendengar simfoni nomor 9 dari Beethoven? Sejarah mencatat, sang komponis besar tersebut meninggal tidak lama setelah menyelesaikan mahakaryanya, Simfoni ke-9 yang terkenal itu.

Kisah serupa berkaitan dengan simfoni ke-9 juga menimpa beberapa komponis klasik lainnya. Antonin Dvorak meninggal di Amerika setelah menyelesaikan simfoninya yang terakhir, Simfoni nomor 9. Begitu pula dengan Anton Bruckner, yang meninggal saat berusaha menyelesaikan karya terakhirnya, yang lagi-lagi merupakan simfoni nomor 9.

Mitos seputar simfoni no. 9 membuat Franz Schubert mengorbankan simfoninya yang ke-8 dengan membiarkannya tak terselesaikan, demi menyelesaikan simfoni nya yang ke 9. Setelah simfoninya yang ke 9 selesai, dia meninggal.

Karena ketakutannya akan mitos simfoni ke 9, Gustav Mahler tidak menamai simfoninya yang ke 9 sebagai simfoni nomor 9, melainkan dia namai sebagai ‘Das Lied von der Erde’. Simfoni berikutnya setelah itu baru dia namai sebagai simfoni nomor 9. Tragisnya, simfoni no. “9″ tersebut tetap merupakan simfoninya yang terakhir yg bisa dia selesaikan sebelum meninggal.

Kiamat!

Posted in Social by Dhani on the November 12th, 2003

Dalam suatu masyarakat yang ’sakit’, kehadiran sosok juru selamat semacam Imam Mahdi atau Satrio Piningit selalu ditunggu. Pada sosok-sosok seperti inilah, masyarakat yang tersisih lantas menyandarkan harapannya. Dilain pihak, sadar atau tidak sadar, masyarakat ’sakit’ seperti ini diam-diam juga mengharapkan akhir dunia segera tiba. Saat itulah mereka akan diangkat ke surga dan bisa mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan dunia yang penuh kepahitan ini.

Dari waktu ke waktu, kita sering menemukan berita tentang sekte keagamaan tertentu yang ‘menjanjikan’ kiamat kepada anggotanya. Mereka percaya bahwa akhir dunia segera tiba pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian, dan bahwa hanya golongan merekalah yang akan diselamatkan Tuhan dan berhak untuk menjadi penghuni surga. Tidak jarang keberadaan kelompok semacam ini berakhir dengan bunuh diri massal, sebuah cara yang dipercaya menjadi semacam ‘jalan tol’ dalam rangka mencapai surga. Di sisi lain, ada juga kelompok yang meyakini akan adanya tanda-tanda jaman tertentu yang mengisyaratkan bahwa sang juru selamat akan segera tiba untuk menyelamatkan mereka yang ‘beriman’ sebelum dunia dan seisinya lenyap bersama datangnya hari kiamat.

Cerita ‘klasik’ semacam itu kini juga sedang berlangsung di negeri ini. Sebelum cerita tentang ’sekte hari kiamat’ ramai dimuat di media, kita mungkin juga sudah pernah mendengar cerita tentang dua gerhana di bulan Ramadhan kali ini yang dipercaya merupakan tanda-tanda akan segera turunnya apa yang disebut sebagai Imam Mahdi itu. Entah kenapa, banyak orang yang percaya tentang hal-hal semacam ini. Tak terpikir kalau terjadinya gerhana adalah sesuatu yang wajar dan alamiah, dan bahwa apabila terjadi dua gerhana pada Ramadhan kali ini tak lebih dari sebuah kebetulan yang juga pernah terjadi di waktu lampau (dalam bulan Ramadhan tahun 1402H/1982 M, pernah terjadi dua gerhana sekaligus dan sampai sekarang Imam Mahdi masih belum kunjung muncul).

Ini masih ditambah lagi dengan kisah-kisah yang dituturkan oleh para rohaniwan “doomsayer” tentang huru-hara di akhir dunia yang belakangan ini makin sering saja kita dengar. Dalam agama Islam, Al Qur’an sudah menegaskan tentang tanda-tanda Kiamat secara garis besarnya saja, sementara itu beberapa hadits menerangkannya dengan lebih rinci. Tapi kalau kita perhatikan hadits-hadits yang sering dikutip berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, tidak jarang kita akan menemukan beberapa kejanggalan. Selain lemah dari segi riwayat (matan), kelihatan bahwa banyak riwayat yang kini telah kehilangan konteksnya.

Bagaimana dalam kisah-kisah tentang kedatangan kiamat, kekaisaran Romawi masih digambarkan sebagai kekuatan ’superpower’, sementara Bizantium masih merupakan pusat peradaban dunia. Dikisahkan pula bahwa dalam perang akhir jaman, manusia masih mengendarai kuda dengan bersenjatakan pedang dan tombak, dan bahwa unta masih menjadi sarana transportasi utama. Itu semua sudah cukup untuk menunjukkan bahwa segala riwayat tersebut paling tidak memerlukan interpretasi ulang kalau tidak bisa disebut meragukan.

Sebagai orang beriman, kita memang harus meyakini bahwa cepat atau lambat, kiamat pasti akan terjadi. Namun kapan tibanya akhir dunia itu, biarlah hanya menjadi rahasia dari Yang Maha Mengetahui. Kita tidak bisa melarikan diri dari kenyataan dengan menunggu datangnya kiamat atau berpangku tangan mengharapkan sang juru selamat, entah dengan nama Imam Mahdi, Satrio Piningit, atau apapun juga, datang dan membebaskan manusia dari ketertindasan. Kita juga tidak bisa hanya berlindung dibalik teks-teks kitab suci dan berharap ada mukjijat datang dari langit untuk membebaskan kita dari keterpurukan. Ikhtiar, usaha, itulah sebenar-benarnya yang harus kita lakukan.

Marie Curie

Posted in Figure, Science by Dhani on the November 6th, 2003

Ini kisah tentang sosok seorang ilmuwan wanita yang sangat saya kagumi, Marie Curie, si penemu Radium. Terlahir di Warsawa, Polandia sebagai Marja Sklodowska pada 7 November 1867 (tepat 136 tahun lalu saat catatan ini saya tulis), ia menghabiskan masa kecilnya sebagai seorang siswi yang menonjol dalam hal kecerdasannya. Pada 1883, dalam usia 15 tahun Marja berhasil menamatkan sekolah menengahnya dengan mengantungi medali emas sebagai penghargaan atas kecemerlangannya di sekolah.

Masa depan baginya semula sangat suram karena saat itu pemerintah Polandia yang kolot tidak menginjinkan kaum wanita untuk menempuh jenjang pendidikan di universitas. Marja sempat bergabung dengan apa yang disebut sebagai “Universitas Bawah Tanah”, sebuah sebutan yang agak aneh untuk kegiatan sekelompok pemuda yang dengan keberaniannya bertekad untuk mempelajari apa saja yang sebenarnya terlarang bagi mereka. Pada masa inilah Marja beserta kakaknya, Bronja memutuskan untuk pergi ke negara lain untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka memilih Paris sebagai tempat menimba ilmu. Bronja berangkat terlebih dahulu, sementara Marja bekerja sebagai pengasuh anak untuk membiayai studi kakaknya. Mereka sudah bersepakat, apabila kelak Bronja sudah menyelesaikan studi dan hidup cukup mapan di Paris, maka Marja dapat menyusul, dan giliran Bronja untuk membiayai kuliah adiknya itu.

Pada 1891, dalam usianya yang 23 tahun, Marja menyusul kakaknya berangkat ke Paris. Ia berhasil memperoleh gelarnya yang pertama dalam bidang Fisika di universitas Sorbonne pada 1893. Setahun kemudian, ia menyabet gelar keduanya dalam bidang Matematika. Pada 26 Juli 1895, dalam usia 27 tahun, Marja menikah dengan Piere Curie, seorang ilmuwan terkemuka yang juga menjabat kepala laboratorium akademi Fisika dan Kimia di kota Paris. Piere bertemu Marja setahun sebelumnya, ketika usianya 35 tahun. Setelah menikah, Marja lantas lebih dikenal sebagai Marie Curie. Sementara itu, ilmu Fisika berkembang dengan pesat. Pada 8 November 1895, Wilhelm Rontgen, seorang ahli Fisika berkebangsaan Jerman berhasil menemukan Sinar-X. Berikutnya, pada 28 Februari 1896, Henri Becquerel, seorang Fisikawan Prancis menemukan bukti bahwa mineral uranium memancarkan sejenis sinar yang tidak kasat mata namun dapat membekas pada pelat fotografi.

Pada 1897, setelah melahirkan anaknya yang pertama, Irine, Marie memutuskan untuk memulai penelitian tentang sinar tak kasat mata yang ditemukan Becquerel sebagai subjek untuk memperoleh gelar doktornya. Dengan melakukan penelitian ini saja, ia sebenarnya sudah mencatatkan sejarah mengingat hingga saat itu di Eropa belum ada seorang wanitapun yang berhasil meraih gelar doktor. Marie melakukan penelitiannya pada sebuah ruangan kecil yang sebagiannya dipakai sebagai gudang di Akademi Fisika dan Kimia kota Paris. Ruangan itu sebenarnya kurang memenuhi syarat sebagai sebuah laboratorium. Hawa didalamnya sangat dingin, lembab dan sangat tidak nyaman. Udara yang dingin juga membuat beberapa perangkat sensor tidak dapat bekerja dengan akurasi yang semestinya.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menemukan cara untuk mengukur sinar misterius tersebut melalui kuat arus listrik yang ditimbulkannya di udara. Untuk itu, ia dibantu oleh sebuah alat yang diciptakan oleh Piere beserta saudaranya, Jacques. Alat yang disebut elektrometer itu bekerja dengan mengukur arus listrik di udara, seberapapun kecilnya. Becquerel telah membuktikan bahwa sinar yang dipancarkan uranium menimbulkan arus listrik di udara. Dengan memanfaatkan elektrometer, Marie dapat mengetahui intensitas sinar dengan mengukur kuat arus listrik di udara. Marie segera mengumpulkan sampel aneka mineral dan kemudian mengujinya satu demi satu. Dalam beberapa hari ia segera memperoleh hasilnya yang pertama. Ia segera mengetahui bahwa intensitas sinar misterius tersebut bergantung pada banyaknya kandungan uranium dalam sampel: makin banyak kandungan uranium, maka intensitas sinar makin kuat. Kekuatan sinar juga tidak tergantung pada bentuk maupun kondisi sampel (apakah dalam keadaan basah, kering, panas, dingin, dalam bentuk bongkahan atau serbuk).

Marie kini tahu bahwa memang uraniumlah yang memancarkan sinar tersebut. Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah: apakah ada mineral-mineral lain yang memancarkan sinar yang sama? Setelah meneliti berbagai sampel, ia kemudian menemukan bahwa mineral yang disebut thorium juga memancarkan sinar sejenis. Jelas orang tidak dapat menyebut sinar misterius ini sebagai “sinar uranium”. Oleh karena itu, maka Marie menggunakan istilah “radioaktifitas”, suatu sebutan yang masih dipakai hingga kini. Penelitian lebih jauh pada sejenis mineral yang bernama pitchblende menunjukkan tingkat radioaktifitas yang sangat tinggi dibandingkan dengan uranium dan thorium. Namun hingga saat itu, unsur yang bertanggung jawab terhadap radioaktifitas masih berupa tanda tanya.

Pada 1898, Piere yang telah menyaksikan segala upaya yang dilakukan isterinya memutuskan untuk ikut terjun membantu penelitiannya. Bersama mereka memisahkan berbagai unsur yang membentuk material pitchblende untuk menemukan unsur yang dicari. Pada 6 Juni 1898, mereka berhasil menemukan sebuah unsur yang kemudian mereka beri nama “Polonium”, sebagai penghargaan terhadap Polandia, tanah air Marie. Akan tetapi, bukti-bukti menunjukkan bahwa masih ada unsur lain yang tersembunyi. Unsur yang belum diketemukan itu mereka sebut sebagai Radium.

Mengekstraksi radium dari batuan pitchblende menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Pekerjaan yang mereka mulai sejak 1898 itu baru menampakkan hasil pada 1902. Saat itu, 4 tahun setelah ia pertama kali mengumumkan bahwa radium mungkin ada, Marie akhirnya memenangkan pertempuran dengan keberhasilannya mengekstraksi sepersepuluh gram radium dari batuan pitchblende. Saat itulah, untuk pertama kalinya dunia dapat melihat sumber sinar misterius yang telah dicari selama bertahun-tahun itu. Hasil ini akhirnya membawa Marie untuk memperoleh gelar doktornya pada 1903. Berikutnya, bersama dengan Becquerel, pasangan Piere-Marie Curie memperoleh hadiah Nobel dalam bidang Fisika atas penemuannya mengenai prinsip-prinsip radioaktifitas.

Sayang, penelitian terhadap radioaktifitas ini akhirnya menggerogoti kesehatan Marie. Pengetahuan yang masih minim tentang radiasi membuat Marie tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Gas radioaktif berkeliaran dengan bebas didalam laboratoriumnya. Sementara itu, radiasi sinar Gamma berpengaruh buruk terhadap jaringan sumsum tulang dan memicu serangan kanker. Bahkan hingga kini, 100 tahun kemudian, buku-buku catatan penelitian Marie masih sangat radioatif sehingga harus dilindungi oleh lempengan timbal. Setelah melahirkan anak keduanya, Eve, pada 1904, kesehatan Marie terus menurun. Kesedihan juga menimpanya ketika pada 19 April 1906, suaminya Piere meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Di lain pihak, kariernya sebagai ilmuwan terus bersinar. Pada 1906, ia tercatat sebagai wanita pertama yang memberikan kuliah di Sorbonne. Pada 23 Januari 1911, Marie dianugerahi Nobel dalam bidang Kimia (Ia orang pertama yang pernah mendapat hadiah nobel hingga dua kali). Pada 1912, Marie ditunjuk sebagai direktur pada institut radium di Paris. Selama Perang Dunia I (1914-1918) Marie mengatur pengadaan unit-unit sinar-X untuk menangani korban perang, dan mendidik 150 orang operator. Sementara itu, pemahaman terhadap radioaktifitas berkembang dengan pesat, ketika puterinya, Irene, beserta suaminya Frederic Joliot, ilmuwan Fisika berkebangsaan Prancis berhasil menemukan radioaktifitas buatan.

Pada 4 Juni 1934, Marie Curie akhirnya meninggal dunia setelah bertahun-tahun mengidap penyakit akibat terus menerus terpapar radiasi. Setahun kemudian, putrinya, Irene beserta Frederic mengikuti jejak ibunya dengan meraih nobel dalam bidang Fisika. Kelak, sekitar dua puluh tahun kemudian, pasangan suami-isteri ini menyusul Marie ke alam baka, juga karena penyakit akibat paparan radiasi. Radioaktifias terus berkembang, dan digunakan untuk berbagai keperluan. Kita memanfaatkannya untuk terapi radiasi bagi penderita kanker, juga untuk memodifikasi gen tanaman untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul. Buah karyanya juga membuka jalan bagi penemuan tentang struktur dan pengembangan daya nuklir. Sejarah kelak mencatat bahwa nuklir selain dapat digunakan sebagai sumber energi yang efisien, juga dapat dikembangkan sebagai senjata pemusnah massal yang mengerikan dalam masa perang.

Walaupun dikenal sebagai ilmuwan besar, pasangan Piere-Marie Curie hidup dalam kesederhanaan. Sebenarnya mereka bisa saja menjadi kaya-raya apabila mematenkan proses ekstraksi radium temuannya. Tetapi betapapun miskin, mereka tetap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari temuan mereka. Tidak ada sedikitpun yang mereka rahasiakan bagi dunia untuk kepentingan kemanusiaan.

Murphy’s Law

Posted in Life by Dhani on the November 5th, 2003

Saya masukkan kartu ATM itu, lantas mengisi nomor PIN, berikutnya memeriksa saldo. Saldo dimunculkan tanpa ada masalah. Itu artinya mesin ATM berfungsi baik. Saya pilih menu penarikan, lantas memasukkan jumlah nominal tertentu. Transaksi sedang diproses. Harap tunggu sebentar, demikian terpampang di layar monitor.

Cukup lama saya menunggu hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dalam proses ini. Saya tekan [cancel], dan tak lama kemudan kartu ATM dikeluarkan, sementara di layar monitor terpampang tulisan Mesin ATM sementara tidak dapat digunakan.

Beberapa jam kemudian, saat mencoba kembali bertransaksi, saya mendapati kenyataan bahwa saldo tabungan sudah berkurang sebanyak jumlah penarikan yang gagal barusan. Dengan kata lain, tabungan saya sudah terdebet sementara mesin ATM tidak mengeluarkan uang.

Sesai prosedur, saya komplain customer service bank bersangkutan (nama banknya tidak usah saya sebut disini). Mereka mengakui bahwa saat saya melakukan penarikan, jaringan ATM mereka sedang mengalami hang, dan menjanjikan koreksi dalam dua hingga tiga minggu. Tidak ada solusi instan yang bisa mereka berikan, dan bahkan tidak ada jaminan bahwa saldo saya akan betul-betul dikoreksi. Kalau pihak mereka menganggap transaksi valid, maka sebagai Muslim saya hanya bisa berucap inna lillaahi….

***

“Namanya juga mesin, mas,” kata si CS sambil berusaha untuk tetap ramah menghadapi komplain saya. Apa boleh buat, saya cuma bisa pasrah sambil mengingat kembali deretan hukum Murphy:

  1. Nothing is as easy as it looks.
  2. Everything takes longer than you think.
  3. Anything that can go wrong will go wrong.
  4. If there is a possibility of several things going wrong, the one that will cause the most damage will be the one to go wrong. Corollary: If there is a worse time for something to go wrong, it will happen then.
  5. If anything simply cannot go wrong, it will anyway.
  6. If you perceive that there are four possible ways in which a procedure can go wrong, and circumvent these, then a fifth way, unprepared for, will promptly develop.
  7. Left to themselves, things tend to go from bad to worse.
  8. If everything seems to be going well, you have obviously overlooked something.
  9. Nature always sides with the hidden flaw.
  10. Mother nature is a bitch.
  11. It is impossible to make anything foolproof because fools are soingenious.
  12. Whenever you set out to do something, something else must be done first.
  13. Every solution breeds new problems.

Memang tidak sepenuhnya benar, tapi kasus yang saya hadapi dengan mesin ATM ini hampir mencakup semuanya!