Buleleng
Adalah Buleleng, sebuah kabupaten yang terletak di “punggung” peta Pulau Dewata. Singaraja adalah ibukota kabupaten yang berjuluk “Bumi Makepung” ini — diambil dari nama kontes balap sapi tradisi lokal yang mirip dengan karapan sapi di pulau Madura. Kota Singaraja dikenal dengan semboyannya “Singaraja Sakti”, yang oleh mereka yang punya jiwa humor suka dipelesetkan dengan membalik susunan hurufnya sedemikian rupa hingga membentuk kalimat “Sakit Raja Singa”.
Letak Singaraja sekitar 90 km arah utara dari Denpasar. Perjalanan dari Denpasar ke sana akan melewati kawasan pegunungan di Bedugul, dengan hawa sejuk dan pemandangan indah danau Bratan, Buyan, dan Tamblingan. Selepas dari Bedugul, perjalanan akan berubah menjadi siksaan, khususnya bagi mereka yang mudah terserang mabuk darat, saat kendaraan melewati jalanan menurun yang sempit dan berkelok-kelok sepanjang sisa perjalanan hingga mencapai kota Singaraja.
Tidak banyak yang istimewa dari kabupaten ini. Saat Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih tergabung dalam satu propinsi dengan nama Sunda Kecil, Singaraja adalah ibukota propinsinya. Ketika Sunda Kecil dipecah, dan Bali menjadi propinsi yang berdiri sendiri, maka pilihan sebagai ibukota propinsi jatuh ke kota Denpasar.
Membicarakan daerah di Bali tanpa menyinggung soal objek wisata rasanya kurang lengkap. Di Buleleng, pantai Lovina dan permandian Air Sanih merupakan tempat tetirah yang paling populer. Lebih ke timur lagi, kita akan menjumpai daerah-daerah “minus” seperti Seririt atau Grokgak. Disana kita mungkin tidak akan merasa sedang berada di Bali. Tanah kering kerontang dengan diselingi pohon-pohon lontar dengan batu-batuan sisa letusan gunung agung sekitar dasawarsa 1960-an lebih banyak mendominasi pemandangan. Disana kita mungkin lebih merasa berada di daerah miskin semacam gunungkidul atau malahan pulau Timor ketimbang di Bali.
***
Dalam dua-tiga hari belakangan ini, nama Buleleng dan Singaraja sering disebut-sebut dalam siaran berita atau lembaran surat kabar. Lagi-lagi soal bentrok antar pendukung partai, yang sedihnya harus menelan korban jiwa, orang-orang lugu yang mati konyol untuk sebuah ketololan yang bernama “partai politik”.
Bali adalah daerah yang masyarakatnya relatif homogen. Memang antar daerah kabupaten, ada beberapa perbedaan minor, tapi selama berabad-abad, mereka telah belajar untuk mengelola perbedaan dengan baik. Satu-dua kali terjadi pertikaian antar kelompok masyarakat, namun biasanya bisa diatasi secara adat tanpa menimbulkan pertumpahan darah. Namun ketika kemudian beragam partai politik tumbuh dengan massanya sendiri-sendiri, kedewasaan untuk mengelola perbedaan mulai mengalami ujian. Bukan rahasia lagi kalau selama ini friksi antar pendukung partai tidaklah merupakan hal yang jarang terjadi. Tapi ketika kemudian pertikaian ini berbuntut menjadi kerusuhan yang membawa korban jiwa, maka pantas kalau orang luar bertanya: ada apa dengan Bali?
Walaupun sering dipersepsikan sebagai masyarakat yang ramah dan santun budi bahasanya, orang Bali toh bukanlah malaikat. Mereka juga bisa marah, bisa emosi, dan bisa pula berlaku brutal; sama seperti umumnya masyarakat daerah lain di negara ini. Dan pemantik mana lagi yang paling ampuh untuk menyalakan sumbu kerusuhan di pulau ini selain perbedaan haluan politik?
Masyarakat kita memang belum dewasa dalam berpolitik. Ketika perbedaan warna baju bisa memancing persoalan, maka boleh dibilang kita masih dalam fase “balita”. Masih dalam suasana peralihan dari bayi ke masa kanak-kanak. Kasus di Bali adalah hal yang bisa terjadi di mana saja di negara ini. Wajar kalau banyak orang yang mengkhawatirkan masa kampanye pemilihan umum yang kini tinggal hitungan bulan itu. Pendukung fanatik parpol yang didominasi oleh orang-orang dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi yang rendah, kelaparan dan frustrasi, adalah kombinasi buruk yang bisa memicu persoalan serius. Akankah Pemilu mendatang akan menjadi ajang mengumbar kebrutalan? Semoga saja tidak!
Blaine dan Puasa
Selama 44 hari, David Blaine, pesulap kondang asal Amerika Serikat itu terkurung di sebuah kotak kaca yang tergantung pada derek, di sebuah tempat yang bersebelahan dengan Tower Bridge, tepi sungai Thames, London. Selama itu, ia hanya menggantungkan hidupnya dengan minum air putih, tanpa makan sama sekali. Aksi edan itu baru berakhir pada 20 Oktober 2003, ketika sang pesulap yang mulai kepayahan itu dikeluarkan dari kotak kacanya setelah meringkuk disana sejak memulai aksinya, 5 September 2003.
Tidak semua orang setuju dengan sensasi yang digelar Blaine. Ia melakukannya bukan semata demi popularitas. Sebuah peliputan dan wawancara eksklusif senilai satu juta Dolar AS dengan sebuah jaringan televisi telah menantinya. Bagi yang tidak setuju, Blaine dianggap telah melecehkan kaum miskin yang setiap hari bergelut dengan kelaparan tanpa ada harapan untuk mendapat uang dari rasa laparnya itu. Beberapa orang bahkan mengejeknya dengan cara keterlaluan. Mereka mengikatkan burger keju pada helikopter yang dikendalikan melalui remote-control, dan kemudian menerbangkannya mengelilingi sangkar kaca dimana Blaine yang kelaparan mendekam.
***
Kita umat Islam, tentu juga tidak berniat untuk berlapar-lapar hanya demi uang seperti halnya Blaine. Kita berpuasa untuk sesuatu yang lebih bernilai daripada itu. Di bulan penuh berkah ini, Allah Swt telah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi setiap amalan yang dikerjakan. Apa lagi yang lebih tinggi nilainya dari pahala yang dijanjikan langsung oleh Sang Khaliq?
Tapi apakah kita hanya berpuasa semata-mata demi pahala? Sehari-hari, kita juga menjumpai banyak kaum miskin yang harus kelaparan tanpa imbalan pahala. Sebagian dari mereka, malahan terperosok ke dalam lumpur dosa, hanya untuk memenuhi tuntutan perut. Saat kita berpuasa, kita masih dapat berharap akan menikmati hidangan buka selepas adzan maghrib berkumandang, sementara mereka yang kelaparan tanpa harapan, tidak tahu apakah ada cukup rezeki hari ini untuk sekedar mengganjal perut yang kosong.
Ketika bulan Ramadhan tiba, warung-warung kita paksa untuk “bertoleransi”, dengan tidak buka siang hari, atau kalaupun buka, dipasangi tabir agar pemandangan didalamnya tidak “mengganggu” mereka yang sedang berpuasa. Tapi pernahkah kita berpikir, ketika menikmati santapan di sebuah warung, ada diantara saudara kita yang cuma bisa menatap dengan perut keroncongan karena di sakunya tidak ada uang barang sepeserpun?
Puasa bukanlan sekedar ladang perburuan pahala. Esensi puasa selain meningkatkan amal ibadah dan menundukkan hawa nafsu, juga untuk menumbuhkan empati kepada mereka yang berkekurangan. Empati yang kemudian berkembang menjadi kepedulian, yang lantas diwujudkan dalam bentuk amaliah sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Melalui puasa kita diingatkan, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan, dan sehari-hari bergulat dengan rasa lapar. Mari kita ulurkan tangan untuk mereka. Kalau kita berpuasa semata-mata hanya demi mengejar pahala, lantas apa bedanya kita dengan Blaine?
Menyambut Ramadhan
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun. Tak terasa kita kembali berada di ambang Ramadhan, bulan penuh berkah yang kedatangannya selalu dirindukan oleh setiap pribadi muslim yang bertaqwa.
Ramadhan selalu saya sambut dengan gembira sekaligus haru-biru. Gembira karena inilah bulan dimana ibadah terasa nikmat, ketika pahala digandakan, ketika rahmat dan ampunan diturunkan. Haru-biru, karena setiap memasuki Ramadhan, saya teringat akan usia yang bertambah setahun, walaupun pada hakikatnya sisa umur berkurang setahun jua. Di bulan inilah, ketika kalendar hijriyah menunjukkan tanggal 27 Ramadhan, Allah Swt menghadirkan saya ke dunia (karena itulah orangtua memberikan nama Ramadhani).
Saya dilahirkan saat sebahagian Muslimin sedang bersiap-siap menyambut lebaran, pulang menjenguk kerabat di kampung halaman. Namun sebagian lagi justeru harap-harap cemas mengharapkan lailatul qadar. Penanggalan masehi saat itu menunjukkan tanggal 22 September, ketika udara sedang panas-panasnya karena Matahari sedang berada tepat di atas garis katulistiwa. Para astronom menyebutnya sebagai titik autumnal equinox, saat orang-orang di belahan utara Bumi sedang menyambut peralihan musim dari musim panas ke musim gugur, sementara di belahan selatan, matahari musim semi mulai mencairkan salju musim dingin.
Ramadhan adalah saat untuk merenungkan kembali apa saja yang telah diperbuat selama setahun belakangan, dan juga tahun-tahun sebelumnya. Rasanya masih sangat sedikit pencapaian yang sudah diraih. Masih banyak harapan yang belum terwujud, masih banyak niat yang belum kesampaian, belum lagi tumpukan noda dan dosa yang seberapa banyaknya hanya Allah jualah yang Maha Tahu. Sebuah pertanyaan “klasik” yang selalu muncul di awal Ramadhan juga kembali terngiang: akankan saya akan berjumpa lagi dengan Ramadhan berikutnya?
Ramadhan bagi saya memang bukan sekedar sahur di tengah malam, berpuasa di siang hari dan ibadah Tarawih di malam hari. Ramadhan adalah bulan kontemplasi. Inilah saat yang tepat bagi saya untuk menemukan kembali hidup ini, reinvent — meminjam istilah seorang sahabat maya. Kini saatnya bagi saya untuk menghaturkan beribu maaf atas segala salah dan khilaf bagi sahabat semua. Insya Allah, kita sambut Ramadhan dengan hati bersih dan pikiran yang tenang dalam menjalani ibadah. Marhaban ya Ramadhan!
Dibalik Selembar Lima-Ribuan
Masih ingat dengan lembaran uang kertas 5000 Rupiah tahun emisi 1992? Di bagian muka uang kertas itu tergambar sebuah alat musik petik tradisional, sementara pada bagian belakangya terpampang lukisan danau tiga warna, Kelimutu. Kedua obyek ini sebenarnya merupakan ikon khas dari propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemilihan tema ini, entah disengaja atau sekedar kebetulan, cocok dengan karakter gubernur bank sentral kala itu, Adrianus Mooy, yang memang asli putra NTT. Kemungkinan atas alasan serupa, maka uang kertas bernominal sama dengan tahun emisi yang lebih baru (2001) penuh dengan nuansa Minang. Tidak heran, soalnya yang menjabat gubernur Bank Indonesia kala itu adalah Syahril Sabirin yang memang asli ‘urang awak’.
Alat musik petik yang barusan disinggung diatas itu bernama Sasando, dan merupakan alat musik tradisional dari pulau Rote. Bicara soal Rote, tidak lepas dari cerita tentang batas-batas negara ini. Kita tentunya sudah tahu tentang batas barat dan timur negara kita lewat lagu “Dari Sabang sampai Merauke” yang terkenal itu. Tapi, batas utara dan selatannya, justeru dikenal lewat jingle iklan sebuah produk mi instan. Sayangnya, penggambarannya justeru kurang tepat. Batas utara tanah air kita memang ada di Talaud (tepatnya di kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara), tapi batas paling selatan bukanlah di Timor, melainkan di pulau Rote. Itupun tidak mutlak, mengingat selepas pulau Rote masih ada pulau-pulau karang kecil tak berpenghuni. Sebagian milik Indonesia, sebagian diklaim oleh Australia, dan sebagian lagi masih dalam sengketa.
Satu hal yang menarik dari Sasando ini, walaupun merupakan alat musik tradisional, tapi ia cukup luwes juga saat dipakai untuk mengiringi lagu-lagu pop modern. Untuk urusan ini, apabila dimainkan secara solo, instrumen ini boleh ditandingkan dengan harpa. Rahasia keunikan warna suara Sasando mungkin terletak pada “overtone” yang dihasilkan oleh resonansi suara petikan dawai senar dengan bagian pinggirannya yang terbuat dari jalinan daun lontar. Dalam acara-acara resmi, biasanya instrumen ini dimainkan oleh seorang laki-laki berpakaian adat, berupa kemeja putih berlengan panjang dengan sarung dan selempang dari tenunan khas setempat, lengkap dengan topi tradisional yang juga dibuat dari jalinan daun lontar. Topi tradisional yang disebut ti’ilangga ini juga kelihatan unik, karena biarpun sepintas mirip seperti topi koboi, tapi bagian depannya seolah-olah punya “antena”.
Sementara itu, danau tiga-warna, Kelimutu, yang tergambar di balik uang kertas itu, berada di pulau Flores. Sebenarnya, warna ketiga danau ini tidak tepat benar sebagaimana terlukis disana. Warna ketiga danau itu selalu berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Konon itu akibat dari perubahan aktifitas vulkanis yang berpengaruh terhadap warna tumbuhan air semacam ganggang yang hidup disana. Saat ini, danau yang pada lembaran mata uang itu dilukiskan berwarna merah, terlihat berwarna kehitaman. Yang digambarkan berwarna hijau, kini lebih condong ke biru muda, sementara yang digambarkan berwarna biru, masih tetap biru, tapi lebih pekat. Saya sendiri kurang yakin, kapan terakhir kalinya (atau apa memang pernah) ketiga danau tersebut membentuk kombinasi warna merah-hijau-biru sebagaimana yang tergambar di lembaran lima-ribuan itu.
Pulau Flores, tempat danau ini berada, juga merupakan pulau yang sangat indah. Pelabuhan lautnya di Ende termasuk salah satu pelabuhan yang paling cantik yang pernah saya singgahi. Paduan panorama laut berpadu dengan barisan pegunungan yang menghijau, dengan kota Ende di latar depan, betul-betul membuat mata terasa sejuk. Bicara soal pelabuhan, nama danau Kelimutu juga diabadikan pada sebuah kapal penumpang milik PELNI yang kini melayari perairan di wilayah Indonesia bagian timur. Sekitar sepuluh tahun silam, saya pernah menumpang kapal itu dalam pelayaran selama tiga hari dua malam di kelas ekonomi. Gara-gara itu, saya terkena serangan typhus akibat jatah makanan yang tidak manusiawi yang disajikan diatas kapal.
Berbeda dengan Rote atau Flores, pulau Timor, dimana kota Kupang–ibukota propinsi NTT–berada, tidak banyak menyimpan hal yang menarik. Kupang adalah kota yang berdiri diatas tanah gersang berbatu karang. NTT sendiri dikenal sebagai salah satu propinsi yang termiskin. Saking miskinnya, sampai-sampai akronim NTT pun dipelesetkan sebagai “Nasib Tidak Tentu”. Walaupun memiliki banyak tempat tetirah, seperti pulau Komodo yang terkenal itu, tapi yang banyak menikmati keuntungan dari sana adalah propinsi tetangganya, Nusa Tenggara Barat (NTB). Maklum, pulau Komodo atau Flores malahan lebih mudah dicapai dari pulau Lombok ketimbang dari Kupang. Selain karena jarak tempuh yang lebih dekat, infrastruktur di Lombok juga lebih bagus. Tidak heran, sekarang saja banyak orang yang mengira pulau komodo merupakan bagian dari propinsi NTB.
Nasib propinsi ini makin tidak keruan ketika harus harus berhadapan dengan persoalan pengungsi dari negara tetangga, Timor Leste alias Timor Lorosa’e. Padahal, ketika negara itu masih merupakan bagian dari Indonesia dengan nama Timor-Timur, nyaris seluruh perhatian dari Jakarta tercurah ke sana, sementara NTT sebagai propinsi tetangganya seperti terabaikan. Andaikan saja dana yang tercurah ke Timor-Timur dahulu dipakai untuk mengembangkan NTT …
Pembodohan Lewat Iklan
“Anda panas dalam? Minum larutan penyegar…”; “Idih-idiih, darah kotor ya? Makanya minum…”; Wajar saja kalau kita merasa jengkel atau dibodohi dengan slogan-slogan iklan diatas. Asal tahu saja, istilah ‘panas dalam’ atau ‘darah kotor’ itu tidak pernah tercantum dalam kamus kedokteran manapun! Lantas kenapa ada pihak yang berjualan obat untuk penyakit yang sebenarnya tidak ada?
Pernah mendengar iklan sabun yang diklaim bisa “membunuh kuman secara efektif”? Ini juga pembodohan! Para dokter sudah lama prihatin dengan semakin maraknya penggunaan sabun antiseptik oleh masyarakat awam. Sabun yang bisa “membunuh kuman” itu sebenarnya tidak boleh digunakan secara sembarangan. Sabun jenis ini biasanya hanya dipakai oleh para dokter saat hendak melakukan pembedahan. Tujuannya untuk membunuh kuman pada bagian tubuh yang mengalami kontak langsung dengan pasien bedah agar kuman-kuman itu tidak sampai menyebabkan infeksi pada luka akibat operasi. Tapi penggunaan untuk keperluan diluar itu, justeru bisa membawa akibat buruk.
Kulit manusia sebenarnya merupakan sebuah ekosistem mini dengan kuman-kuman (dalam pengertian jasad renik), baik yang bersifat merugikan dan menguntungkan sebagai anggotanya. Penggunaan sabun antiseptik bukan hanya membasmi kuman yang merugikan, tapi juga yang menguntungkan. Walhasil keseimbangan ‘ekosistem’ di kulit menjadi rusak, dan ini justeru bisa mengganggu kesehatan kulit. Tubuh kita sebenarnya sudah memiliki sistem kekebalan sendiri untuk mengatasi kuman-kuman merugikan pada kulit. Jadi, selama dalam batas-batas yang wajar, it’s Ok, tidak perlulah kuman-kuman itu dibasmi dengan sabun antiseptik, apalagi setiap kali saat kita mandi. Lain ceritanya kalau kita memang mengidap penyakit kulit. Dalam kondisi seperti ini, bolehlah kita memakai sabun antiseptik.
Tapi pembodohan yang paling ‘telanjang’ pastilah terjadi saat wabah SARS sedang marak beberapa bulan lalu. Saat itu, entah siapa yang memulai, muncul slogan-slogan iklan dari aneka produk yang mendompleng isu SARS. Padahal, penyebab SARS sendiri sekarang masih berupa tanda tanya. Penyakit ini tidak bisa dicegah semata-mata dengan menggunakan produk pembersih merek A, multivitamin merek B, atau suplemen merek C. Untungnya badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberikan peringatan keras bagi produsen yang mengiklankan produknya dengan menumpang “popularitas” SARS. Ada sekitar 13 produsen yang saat itu mendapat “kartu kuning”.
Sedih juga sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibodohi seperti ini.
Antara Legian-Paiton
Sepertinya baru kemarin suara menggelegar itu mengguncang gendang telinga saya. Rasanya baru kemarin saya terpekur di sebuah sudut jalan di Legian, di antara puing-puing bangunan dan bangkai kendaraan. Masih jelas dalam ingatan saya, tumpukan mayat-mayat yang hangus, nyaris tak berbentuk, yang terserak begitu saja di kamar jenazah RS Sanglah.
Setahun sudah tragedi mengerikan di Legian berlalu. Kita tidak cuma bicara tentang 200-an nyawa yang melayang seketika dalam peristiwa itu, tapi juga sebuah propinsi dengan tiga setengah juta penduduk yang ekonominya nyaris sekarat, bahkan hingga saat ini. Kita juga bicara soal sebuah negara berpenduduk 200 juta jiwa yang kini terseok-seok menghadapi ancaman teror yang muncul bertubi-tubi. Sebuah negara besar yang lemah dalam nyaris segala hal, yang terombang-ambing dalam apa yang disebut sebagai “perang global melawan terorisme” yang dihembuskan oleh negara-negara yang lebih maju.
* * *
Dalam perjalanan darat di malam hari antara Surabaya-Denpasar, gemerlap lampu-lampu di PLTU Paiton selalu menyajikan pemandangan yang menarik untuk sekedar dilongok. Mencapai Paiton bagi saya merupakan isyarat bahwa kendaraan telah mencapai sepertiga perjalanan, apabila dimulai dari Surabaya, atau tiga perempatnya, apabila bertolak dari Denpasar. Saat melihat lampu-lampu Paiton, saya boleh berharap dalam tiga jam kemuka akan tiba di Surabaya, atau dalam rute sebaliknya, mencapai Banyuwangi untuk selanjutnya menyeberang ke Bali.
Kalau belakangan ini nama Paiton mendadak menjadi buah bibir, pastilah bukan karena ada apa-apa dengan PLTU yang berlokasi di Probolinggo itu. Ini tentang sebuah peristiwa kecelakaan yang terjadi tidak jauh dari tempat itu, dengan 54 nyawa melayang seketika sementara tubuh mereka hangus terbakar. Terus terang, ketika media menayangkan gambar-gambar korban kecelakaan yang terjadi baru-baru ini disana, ingatan saya kembali melayang kepada apa yang saya lihat di Sanglah setahun silam.
* * *
Peristiwa Legian mengajarkan kepada kita, betapa mahalnya “harga” sebuah keamanan saat ini. Kita mendadak akrab dengan sekuriti yang ketat saat memasuki fasilitas publik. Atas nama keamanan pula, kita harus rela menerima pandangan curiga petugas sekuriti, berurusan dengan detektor logam, atau bahkan digeledah, hanya untuk bisa masuk dan berbelanja di sebuah mall.
Sebaliknya, peristiwa Paiton kembali memberi pelajaran pada kita, betapa murahnya harga sebuah keselamatan. Sekali lagi kita ditunjukkan, bagaimana bobroknya sistem layanan transportasi publik di negeri ini. Ketika peristiwa Legian yang korbannya rata-rata orang asing membuat kita mendadak “care” soal keamanan, apakah peristiwa Paiton yang memakan korban anak bangsa sendiri bisa membuat pihak-pihak yang berwenang peduli soal keselamatan? Apakah peristiwa ini bisa mengetuk mereka yang punya kuasa untuk memperbaiki sistem layanan publik di negeri ini? Sejauh ini, yang terlihat hanyalah pendekatan klasik. Para korban mendapatkan santunan dan limpahan simpati, sementara mereka yang dianggap bersalah segera diusut, untuk selanjutnya didudukkan di kursi pesakitan dimuka hakim, dan kemudian menerima vonis. Lantas persoalan dianggap selesai. Kita masih berkutat pada persoalan siapa yang salah, bukannya apa yang salah.
Legian, Paiton, mayat-mayat yang hangus terbakar. Semua itu membuat saya berpikir, begitu mudahkan nyawa melayang sia-sia di negeri ini? Benarlah kata penyair Taufiq Ismail: Malu aku jadi orang Indonesia!
Mitos, Fakta, dan Penelitian
Sebuah penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini menyatakan kalau senyawa polifenol yang terkandung pada teh hitam memiliki manfaat positif untuk mencegah terbentuknya plak dan karang gigi. Jadi, orang dianjurkan untuk mengkonsumsi teh hitam sehabis makan. Padahal, menurut penelitian lain yang sudah cukup lama dipublikasikan, senyawa tanin dalam teh hitam dapat menghalangi penyerapan zat besi dari makanan. Karenanya, orang dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi teh hitam dalam rentang waktu 4 jam sebelum atau sesudah makan agar tidak mengalami defisiensi zat besi.
Kasus soal teh hitam ini kurang lebih sama dengan kasus pada permen. Sedari kecil, kita sudah diajari kalau banyak “makan” permen bisa membuat gigi keropos. Tapi jarang orang yang tahu kalau mengulum permen itu sebenarnya membantu menguatkan akar gigi karena merangsang keluarnya air liur (pada mulut yang kering karena produksi air liur sedikit, gigi cenderung gampang goyah). Sekarang pilih mana, gigi kuat tapi keropos, atau gigi yang cemerlang tapi gampang goyah? Pakai logika sajalah. Kita toh tidak perlu menghindar sama sekali dari perman supaya gigi tidak keropos, atau selalu mengulum permen supaya gigi jadi kuat kan?
Supaya tidak kekurangan zat besi, makan saja bayam banyak-banyak, siapa tahu bisa jadi sekuat Popeye. Ini juga pengertian yang salah kaprah. Kandungan zat besi pada bayam tidak jauh berbeda dengan yang dikandung oleh sayuran lainnya. Konon kesan bahwa bayam memiliki kandungan zat besi yang ‘fantastis’ muncul karena kesalahan publikasi terhadap hasil sebuah penelitian yang dimuat di sebuah jurnal bergengsi. Kesalahan ini, entah keliru mengutip atau sekedar kesalahan cetak, membuat angka kandungan zat besi pada bayam jadi terdongkrak.
Saat kita mengalami sariawan, kita lantas buru-buru mencari tablet vitamin C, atau memakan apa saja yang diklaim punya kandungan vitamin C yang tinggi. Ini tindakan yang sia-sia, karena vitamin C sama sekali tidak menyembuhkan sariawan, melainkan hanya mencegah kita mengalami sariawan. Mengkonsumsi vitamin C setelah sariawan terjadi tidak akan berfaedah apa-apa, dan malahan bisa semakin memperparah sariawan, terutama kalau kita mengkonsumsinya dalam bentuk tablet hisap. Kenapa? Kita tahu bahwa bakteri, terutama yang bersifat merugikan, sangat menggemari suasana yang asam. Coba tebak, apa yang akan terjadi akibat keasaman yang dibawa oleh tablet vitamin C itu di mulut yang bersariawan. Jawabannya sudah jelas: ancaman infeksi pada luka sariawan. Lantas apa betul kandungan vitamin C yang tinggi cuma ditemui dalam jeruk? Tidak juga. Ceritanya kurang lebih sama dengan kasus kandungan zat besi pada bayam tadi.
Para penggemar coklat pasti akan bersorak membaca penelitian bahwa coklat sama sekali tidak menyebabkan kegemukan, karena lemak kakao sebenarnya memiliki kandungan kolesterol HDL (High Density Liporotein), yang dikenal sebagai “kolesterol baik”. Tapi dalam kenyataannya, lemak kakao harganya sangat mahal sehingga tidak banyak produsen yang menggunakan 100% lemak kakao untuk coklat yang mereka produksi. Biasanya mereka mencampurnya dengan lemak nabati atau hewani yang mengandung kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein), yang kita tahu merupakan “kolesterol jahat”. Walhasil, mengkonsumsi coklat tetap saja mengandung ancaman kegemukan (lebih jauh soal “kolesterol baik” dan “kolesterol jahat” pernah saya tulis di sini)
Bicara soal kandungan “ini-itu” pada makanan, juga sering dikaitkan dengan mitos yang kadangkala tidak berdasar, walaupun juga tidak selamanya salah. Makan sayur kangkung dipercaya menyebabkan kantuk. Ini bukan berarti kangkung mengandung senyawa semacam ‘obat tidur’, melainkan karena struktur seratnya yang sulit dicerna oleh tubuh. Karena itu, tubuh mengeluarkan banyak energi untuk bisa mencernanya. Akibatnya, rasa kantuk pun bisa muncul, bukan karena reaksi dari kandungan tertentu, tapi karena tubuh perlu istirahat setelah bekerja keras mencerna makanan yang satu ini. Juga mitos tentang terong yang dipercaya bisa mengganggu fungsi ‘kelelakian’ atau nenas yang tidak bagus untuk urusan ‘kewanitaan’, itu semuanya sama sekali tidak benar.
Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk bisa tahu hal-hal seperti ini. Itu semua adalah pengetahuan umum yang (seharusnya) diketahui oleh setiap orang. Dengan demikian, tidak perlu lagi kita terkecoh dengan hasil penelitian yang masih bersifat preliminary yang tahu-tahu jatuh ke tangan wartawan, atau mitos-mitos tak berdasar tentang khasiat atau pantangan terhadap suatu jenis makanan. Juga hasil-hasil penelitian yang dieksploitir produsen makanan atau suplemen tertentu untuk melariskan produknya.