Cuplikan dari Goenawan Mohammad dalam sebuah Catatan Pinggirnya:

… Kisah Saladin adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita dahsyat bagaimana agama-agama telah menunjukkan kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan ilham pengorbanan – yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan.Tapi sebagian besar kisah Saladin – yang tersebar baik di Barat maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad ke-12 itu – adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah. Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187. Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah juga, yang dilakukan Saladin bukanlah menjadikan penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun 1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

“Anakku,” konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya, az-Zahir, menjelang wafat, “… Jangan tumpahkan darah … sebab darah yang terpercik tak akan tertidur.”

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, kita toh tahu, antara lain dari film Hollywood sekalipun, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada raja Richard Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu …” (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir 4, Grafiti 1995)

Ketika Islam dituding sebagai agama yang garang, intoleran, bahkan barbar, tidakkah kita bisa sejenak menengok teladan di masa lampau? Ketika orang berkata bahwa Islam disebarkan dengan Qur’an ditangan kanan dan pedang di tangan kiri, apakah kita akan berkata “demikianlah Islam? Juga ketika kita melihat mereka yang melakukan peledakan, menyebabkan ratusan nyawa melayang sia-sia, lantas menyebut apa yang dilakukannya sebagai jihad, apakah kita akan menggumam “begitulah Islam”?