Bianglala


Lebih Berharga Ketimbang Nalar

Posted in Art, Social by Dhani on the September 6th, 2003
Ah! vous dirais-je, Maman.
Ce qui cause mon tourment?
Papa vent que je raisonne,
comme une grande personne.
Moi, je dis que les bonbons,
valent mieux que la raison.
Ah! Kuceritakan padamu Ibu.
Apa yang membuatku gundah?
Ayah ingin aku bernalar,
sepertinya aku ini sudah dewasa.
Kupikir sebutir permen manis,
tetap lebih berharga ketimbang nalar.

(Lagu rakyat Prancis abad ke-18)

Potongan lagu diatas mungkin terasa asing, tapi melodinya sebenarnya sudah cukup akrab di telinga kita. Lagu “Twinkle-Twinkle Little Stars” yang terkenal itu dinyanyikan dengan melodi yang sama dengan yang digunakan lagu diatas tiga abad lampau. Wolfgang Amadeus Mozart juga pasti telah akrab dengan lagu ini. Dari sanalah lahir karyanya “Variations on Ah! Vous dirais-Je Maman” (K.265).

Konon Mozart, yang saat itu masih belasan tahun, sengaja menciptakan komposisi ini untuk menyindir sang ayah, Leopold yang terkenal “streng” itu. Tapi, ah, bukankan saat ini juga banyak orang dewasa yang kehilangan nalarnya? Memang bukan karena gula-gula manis (bonbon), tapi karena uang, kekuasaan, atau politik. Dalam berbagai situasi, nalar memang kerap menjadi yang pertama kali dikorbankan. Dan ini bukan hanya monopoli anak-anak belaka.

Leave a Reply