Bianglala


Ketika Air Berubah

Posted in Wisdom by Dhani on the September 9th, 2003

Dhun Nun, seorang Darwis yang wafat pada tahun 860 M pernah menuturkan kisah berikut:

Alkisah, dahulu kala, seorang alim memberi peringatan kepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua air di dunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap. Sebagai gantinya, akan ada air baru yang mengubah manusia menjadi gila.Hanya seorang yang dapat menangkap makna peringatan itu. Ia mengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman. Ditunggunya saat yang disebut-sebut itu.

Pada hari yang dipastikan, sungai-sungai berhenti mengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orang yang menangkap makna peringatan itu pun pergi ke tempat penyimpanan dan meminum airnya.

Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air terjun kembali memuntahkan airnya, orang itupun menggabungkan dirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali lain dari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernah terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapat peringatan. Ketika orang itu mencoba berbicara dengan mereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telah menganggapnya gila. Terhadapnya mereka menunjukkan rasa benci atau kasihan, bukan pengertian.

Mula-mula orang itu tidak mau minum air yang baru. Setiap hari ia pergi ke tempat persembunyiannya, minum air simpanannya. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk meminum saja air yang baru itu. Ia tidak tahan lagi menderita kesulitan hidup; tindakan dan pemikirannya sama sekali berbeda dengan orang-orang lain. Ia meminum air baru itu dan menjadi seperti yang lain-lain. Ia pun sama sekali melupakan air simpanannya, dan rekan-rekannya mulai menganggapnya sebagai orang yang baru saja waras dari sakit gila.

Dalam pandangan sekumpulan orang yang semuanya tidak waras, mereka yang waras itulah yang gila. Saat tata nilai dan norma sosial telah sedemikian rusak, maka mereka yang berusaha hidup secara lurus cenderung dipandang menyimpang oleh lingkungannya.

Di lingkungan yang korup, pejabat yang bersih justeru adalah orang yang brengsek. Murid yang berkeras tidak mencontek adalah teladan yang buruk dimata mereka yang mau gampangnya sendiri. Bersyukurlah mereka yang mampu bertahan untuk lurus. Sayang, sebagian besar justeru memilih untuk ikut arus, semata-mata agar lingkungan menganggapnya “waras”.

2 Responses to 'Ketika Air Berubah'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Ketika Air Berubah'.

  1. enggar said,

    on November 20th, 2007 at 8:36 am

    Dan untuk mereka yang mampu bertahan untuk lurus, semogalah tetap selamanya.

  2. on April 29th, 2009 at 3:01 pm

    [...] Artikel bagus dari seorang rekan. Thanks. [...]

Leave a Reply