Bianglala


Katak Hendak Jadi Lembu

Posted in Social by Dhani on the September 7th, 2003

Adalah Suria, seorang amtenaar yang hanya menduduki posisi klerk (juru tulis) di kantor kadipaten. Dengan gajinya yang tidak seberapa, ia ingin hidup layaknya kaum priyayi dan golongan menak. Isterinya harus berjuang keras, mencukup-cukupkan anggaran rumah tangga untuk mengimbangi gaya hidup mewah suaminya. Sayang, alih-alih berterima kasih, Suria makin memperturutkan hawa nafsunya, dan tiada perduli lagi akan isterinya. Kisah ini berakhir tragis ketika sang isteri meninggal dunia karena tidak mampu memikul beban batin yang berkepanjangan, sementara Suria akhirnya terlunta-lunta setelah kehilangan pekerjaannya.

Begitulah kurang lebih yang dikisahkan oleh Nur Sutan Iskandar dalam sebuah roman karangannya, “Katak Hendak Jadi Lembu”. Berbeda dengan roman lain dari angkatan Balai Pustaka yang lebih suka mengangkat tema percintaan yang kini sudah usang (ingat ungkapan “sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya”?), maka tema yang diusung oleh roman yang ini seperti tidak pernah lekang oleh jaman.

Kisah ini ditulis dengan mengambil setting pada tahun 1930-an, ketika dunia sedang dilanda resesi berkepanjangan. Kakek-nenek kita mungkin menyebut masa itu sebagai jaman malaise, yang kerap dipelesetkan oleh lidah Melayu sebagai jaman “meleset”.

Judul Katak hendak jadi lembu, nampaknya diilhami dari fabel klasik tentang seekor induk katak yang berusaha menggembungkan diri untuk meniru ukuran seekor lembu yang digambarkan oleh anaknya. Alih-alih menyamai ukuran lembu, katak ini akhirnya tewas karena badannya meledak! Kini kiasan ini digunakan untuk melukiskan orang kebanyakan yang berusaha bergaya layaknya orang berpunya.

Kini, Berpuluh tahun berlalu sejak jaman malaise yang digambarkan oleh roman ini, kita kembali menghadapi persoalan ekonomi yang serupa. Sementara itu, perilaku bak Suria masih terus merajalela; di masyarakat, di pemerintahan, di mana-mana. Sementara tangis bayi yang baru lahir menandai warisan hutang jutaan rupiah dari generasi terdahulu, kita masih terlena dengan kemajuan semu yang telah dicapai. Gedung-gedung megah, proyek-proyek mercusuar, industeri padat modal (walaupun minim profit), terus dibangun dengan hutang yang harus ditebus oleh anak cucu kita kelak.

Leave a Reply