Bianglala


Norton Internet Security 2009

Posted in Techno by Dhani on the October 25th, 2008

Sebenarnya saya sudah lama menghindari penggunaan produk-produk Norton di PC saya. Alasannya, apalagi kalau bukan soal performa. Pertama kali saya memakai produk Norton dibawah sistem operasi Windows XP, kalau tidak salah sekitar tahun 2004-2005, saya langsung kapok. Terlalu banyak resource yang tersita, sehingga mesin Pentium 4 (yang saat itu terbilang standar), berjalan terseok-seok layaknya pentium 2!

Tapi, berawal dari ketidak-puasan terhadap produk anti virus yang saya gunakan sekarang, saya coba mencari-cari produk antivirus alternatif. Ketemulah dengan Norton Internet Security 2009 yang baru saja dirilis beberapa waktu lalu. Dari promosinya, produk ini sepertinya cukup menjanjikan: ringan (hanya menggunakan memori sekitar 7 MB), cepat, dan menyediakan proteksi yang handal.

Setelah mendownload versi trialnya dan mencobanya di PC saya, saya rasa promo itu tidak terlalu berlebihan. Instalasi hanya memakan waktu kurang dari semenit. Sistem tetap kencang, dan saya juga merasa lebih secure. Memang ada sedikit kelambatan pada saat startup, yang sepertinya lebih disebabkan oleh penggunaan resource prosesor ketimbang aktifitas baca-tulis di hard-disk, tapi itu juga masih dalam batas yang bisa ditoleransi.

Salah satu fitur yang saya suka, adalah opsi untuk menonaktifkan fitur auto-protect dengan hanya mengklik kanan ikon pada taskbar. Saya biasanya memang lebih sering mematikan antivirus, kecuali saat melakukan aktivitas yang beresiko (misalnya, saat membaca flash-disk milik orang lain). Sejauh yang saya amati, hanya ada sedikit perbedaan performa antara saat fitur auto-protect diaktifkan dengan saat tidak aktif.

Satu hal yang menarik dari software ini, adalah fitur proteksi anti pembajakan yang diklaim cukup canggih. Norton sepertinya tidak main-main untuk melindungi produknya dari ancaman para pembajak. Konon para pemasok key-generator sampai sekarang masih belum juga sanggup memecahkan kode proteksi Norton. Tapi apa betul produk ini aman dari pembajakan?

Ternyata tidak! Ceritanya, Norton menyediakan versi trial untuk didownload oleh calon pengguna di websitenya. Versi ini dapat bekerja penuh. Seluruh fitur aktif, termasuk update definisi virus terbaru. Hanya saja, versi ini akan expire setelah 15 hari diinstall. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh para pembajak.

Dengan menggunakan utiliti khusus yang bisa dijalankan oleh sistem saat startup, counter penggunaan software ini dapat dimanipulasi untuk selalu expire pada 15 hari kemuka, tidak perduli berapa lama software itu telah diinstall. Dengan kata lain, software dapat terus-menerus aktif tanpa mengenal kadaluwarsa. Ini memang bukan teknik yang sempurna, karena pengguna masih harus berhadapan dengan ‘nag screen’ setiap kali masuk ke interface Norton, tapi diluar itu, semua fungsi masih berjalan dengan normal.

Yang jadi pertanyaan sekarang, dengan cara demikian, apakah pengguna masih bisa dianggap menjalankan software ini secara legal? Maksud saya, software ini merupakan versi trial resmi yang didownload dari website pembuatnya. Tidak ada modifikasi (patching) maupun penggunaan nomor seri bajakan pada program. Semua dibiarkan apa adanya. Hanya saja, sistemlah yang direkayasa untuk menipu counter masa kadaluarsa software bersangkutan. Ada yang bisa memberi pencerahan berkenaan dengan hal tersebut?

Anyway, secara umum saya puas dengan produk ini dan tidak keberatan untuk membeli versi originalnya. Produk ini sudah terinstall di komputer saya sejak sekitar sebulan lalu, dan masih akan expire pada “15 hari lagi” :D

LHC, oh LHC

Posted in Science by Dhani on the September 11th, 2008

Setelah sekian lama ditunggu dan tertunda, eksperimen di Large Hadron Collider (LHC) akhirnya digelar juga pada 10 September lalu. Eksperimen yang diorganisasikan oleh European Organization for Nuclear Research (CERN) ini menjadi kontroversial akibat banyaknya isu yang beredar terkait faktor keamanannya. Lebih parah lagi adalah liputan media yang sensasional dan jauh dari kenyataan, sehingga memicu ketakutan masal terhadap dampak dari eksperimen ini.

Apa benar eksperimen LHC bisa menyebabkan kiamat? Katanya tumbukan partikel elementer di lab LHC dapat menimbulkan lubang hitam mini yang akan menghancurkan Bumi?

Tumbukan partikel dan hujaman radiasi kosmis sebenarnya adalah peristiwa yang selalu menimpa kita setiap saat. Akselerator LHC hanya berupaya untuk meniru fenomena alami dari sinar kosmik dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Di alam, partikel dari sinar kosmis dihasilkan di jagat raya melalui peristiwa ledakan supernova atau pembentukan lubang hitam (black hole). Energi yang diakselasikan dalam proses ini, sangat jauh melampaui yang dapat dicapai oleh LHC. Sejak pertama kali terbentuk, sekitar 4,5 miliar tahun lalu, Bumi kita secara konstan telah dibombardir oleh terpaan sinar kosmik dengan energi maha besar. Sebesar-besarnya energi akselerasi LHC, itu sebenarnya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan energi yang dibawa oleh radiasi sinar kosmik. Tidak ada alasan bahwa energi LHC yang hanya sejumput kecil itu bisa sampai menghancurkan Bumi dan seisinya.

Dalam eksperimen LHC, proton dengan energi penuh akan ditembakkan hingga mencapai kecepatan 0.999999991 kali kecepatan cahaya. Setiap proton akan mengelilingi struktur cincin LHC sepanjang 27 km hingga 11.000 kali setiap detik. Mengerikan? Nanti dulu. Semua proton yang diakselerasikan di LHC sebenarnya didapat dari atom hidrogen biasa. Hidrogen yang diakselerasikan tiap hari di LHC volumenya sangat kecil, hanya seberat 2 nanogram. Perlu waktu sejuta tahun bagi para ilmuwan hanya untuk mengakselerasikan 1 gram hidrogen!

LHC menghasilkan panas hingga 100.000 kali lebih panas dari suhu di inti Matahari? Ya, tapi temperatur sebesar itu terkonsentrasi di satu titik yang sangat kecil di dalam akselerator, dimana partikel-partikel saling bertumbukan. Sebaliknya, akseleratornya sendiri justeru beroperasi pada suhu ultra-dingin: -271,3°C (1,9° K), atau kurang dari 2 derajat diatas titik nol mutlak.

Salah satu “dongeng” tentang eksperimen LHC adalah big-bang dan lubang hitam mini. Okelah, ini bukan betulan dongeng. Di satu sisi ada benarnya juga. Dalam skala yang sagat kecil dari tembakan proton, konsentrasi energi yang terjadi dapat menghasilkan kerapatan energi yang eksis hanya beberapa saat setelah terjadinya big-bang. Inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai big-bang mini itu.

Soal lubang hitam juga setali tiga uang. Lubang hitam yang asli tercipta dari keruntuhan sebuah bintang masif, dengan energi gravitasional yang luarbiasa besar yang menyedot materi di sekelilingnya. Gaya tarik gravitasional suatu lubang hitam berbanding lurus terhadap materi dan energinya. Makin kecil kandungan materi-energi, makin lemah pula gravitasinya. Sebagian fisikawan beranggapan bahwa tumbukan partikel pada LHC dapat mengakibatkan terbentuknya lubang hitam mini. Namun, dengan energi tumbukan pada LHC (yang ekuivalen dengan energi yang dipunyai seekor nyamuk), maka lubang hitam yang dihasilkan – apabila betul-betul terbentuk – tidak akan memiliki cukup gaya gravitasi untuk menarik apapun di sekitarnya. Lagipula, sekiranya pula LHC sanggup menghasilkan lubang hitam mini, maka sinar kosmik dengan energi yang lebih tinggi juga tentu bisa menghasilkan lebih banyak lagi lubang hitam mini di mana-mana. Karena Bumi kita hingga kini masih utuh, tidak ada alasan untuk percaya bahwa lubang hitam mini pada LHC bisa membahayakan Bumi.

Terakhir, apa sih gunanya semua “kegilaan” ini? Ok. Saya pernah menulis disini bahwa eksperimen LHC bertujuan untuk mencari partikel hipotetikal Boson Higgs. Tapi itu cuma langkah awal untuk mencapai tujuan yang lebih kompleks, dalam rangka melengkapi pemahaman kita terhadap alam semesta yang sampai saat ini masih “bolong-bolong” (tapi bagian ini sepertinya lebih baik saya tulis kapan-kapan saja dalam entri blog tersendiri). Sayangnya, walaupun begitu banyak tumbukan partikel yang terjadi di LHC saat dinyalakan, namun bukan berarti partikel misterius itu serta-merta dapat ditemukan. Kemunculan Boson Higgs di LHC diprediksi sedemikian jarang, sehingga diperlukan sekitar 2-3 tahun pengambilan data untuk memperoleh statistik yang memadai untuk dianalisis. Jadi, sabar sajalah dulu.

Tuhan-Tuhan Genetis

Posted in Book, Science by Dhani on the August 14th, 2008

Judul buku ini sepintas terasa provokatif. Dalam wacana keagamaan, takdir dipandang sebaga bahasan yang rawan, suatu wilayah remang-remang yang menyimpan banyak jebakan teologis yang mencelakakan. Ketika bahasan tentang takdir bercampur dengan cabang sains yang tergolong kontroversial, dalam hal ini biologi evolusi, hasilnya mungkin bisa membuat jidat para agamawan sedikit berkerut.

Tapi untungnya hal itu tidak terjadi pada buku ini, The Genetic Gods (Tuhan-Tuhan Genetis): Kuasa Gen atas Takdir Manusia (Penerbit Serambi, 2007). Edisi bahasa Inggris buku ini telah terbit sejak 2001 dengan judul The Genetic Gods: Evolution and Belief in Human Affairs (diterbitkan oleh Harvard University Press). Sebagai Distinguished Professor in Ecology & Evolutionary Biology pada School of Biological Sciences, University of California, John C. Avise, pengarang buku ini, jelas adalah sosok yang cukup otoritatif untuk subjek yang dibahas dalam bukunya.

Pemikiran yang dibawa oleh buku ini sebenarnya cukup sederhana. Setelah kita tahu bahwa gen-gen dalam tubuh kita menentukan takdir bentuk tubuh dan kesehatan kita, bahkan kebudayaan, kepribadian, dan kecenderungan moral kita, lantas bagaimana dengan kepercayaan keagamaan yang menempatkan Tuhan sebagai penguasa takdir manusia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Avise membawa pembaca dalam perjalanan menelusuri berbagai penemuan mutakhir dalam genetika, berikut aneka tantangan yang dihadirkannya bagi agama, filsafat, hingga moralitas hidup manusia. Perjalanan dimulai dari doktrin Biologi yang mencakup genetika evolusioner pada bab pertama. Disini Avise memaparkan secara ringkas dasar-dasar teori genetika, hingga peranannya dalam evolusi organisme hidup.

Berikutnya, di bab kedua, buku ini memaparkan berbagai mitologi asal usul kehidupan, baik dalam tradisi agama-agama besar hingga suku-suku terasing yang menghuni berbagai belahan dunia. Dari sana, pembaca digiring menuju pemahaman terhadap asal-usul kehidupan menurut sains dan tanggapan filosofis (dan tentunya teologis) terhadap hal tersebut.

Pokok bahasan yang sesungguhnya baru kita dapati pada bab ketiga dan selanjutnya. Disini pembaca mulai dibawa melintasi wilayah kutukan dan berkah genetis, yang kesemuanya itu membawa konsekuensi terhadap perjalanan hidup organisme bersangkutan. Avise pun menjabarkan soal cacat genetis, kromosom, penggerak meiosis (meiotic drivers), determinisme genetis, dan aneka topik bahasan lainnya yang relevan. Semua dibahas secara sistematis dan relatif rinci, untuk ukuran bacaan popular tentunya.

Belakangan, di tiga bab terakhir, Avise mulai menurunkan tensi bahasan ilmiah, dan memberi porsi yang lebih besar untuk ranah filosofis. Diantaranya ada bahasan yang tergolong “berani” mengenai takdir versus sains, hingga etika bioteknologi.

Walaupun sepintas terasa sedikit teknikal, buku ini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat “awam” yang berpikiran terbuka. Namun bagi pembaca yang sama sekali “blank” dalam topik genetika, mungkin agak sulit untuk mengikuti pembahasan di buku ini. (untuk kalangan tersebut, saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu “Genom” karangan Matt Ridley, yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, agar memperoleh sedikit tambahan wawasan yang diperlukan).

Seperti ditegaskan oleh pengarang dalam prakatanya, buku ini adalah tentang sebab akibat dalam biologi. Buku ini tidak dimaksudkan untuk berkutat serius dengan dampak evolusi terhadap ketuhanan dari sudut pandang para filsuf keagamaan atau ahli teologi, melainkan hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih jernih mengenai temuan empiris mutakhir di bidang genetika molekuler dan kemajuan konsep dalam teori genetika evolusioner, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan komunikasi antara ilmu sosial dan eksakta, serta antara teologi dan biologi evolusioner. Sasaran yang sedikit “muluk” menurut saya, namun memang tidak ada salahnya untuk dicoba.

Refleksi

Posted in Blogging by Dhani on the July 30th, 2008

Musim liburan sudah usai. Itu artinya situs ini harus siap-siap menerima luberan pengunjung lagi. Seperti biasanya, selama musim liburan sekolah, pengunjung blog ini, beserta site “saudaranya” (ini dan ini) mengalami penurunan yang cukup berarti.

Banyak hal yang berubah sejak pertama kali saya menulis blog, lebih dari tujuh tahun lampau. Blog yang tadinya cuma satu, berkembang menjadi tiga — tidak termasuk blog-blog di ABN dan sejumlah blog/site lain yang sekarang masih digodok. Blog ini yang semula cuma blog “setengah hati” malahan jadi blog utama saya. Blog Info Astronomi yang tadinya cuma sebagai tempat nyoba-nyoba Wordpress malahan diseriusi sementara blog Refleksi yang tadinya mau diseriusi malahan terhenti.

Oh ya, Refleksi. Saya hampir lupa dengan blog yang satu itu. Sudah setahun lebih blog itu tidak lagi saya update. Masalahnya, mesin Blogger yang saya pakai sebagai platform blog tersebut sudah mengurangi dukungan untuk site eksternal diluar Blogspot. Ini cukup mengganggu. Pengarsipan misalnya, sekarang harus dilakukan secara semi-manual. Niatnya sih, dimigrasikan ke mesin Wordpress. Ini sudah saya lakukan di localhost saya, tapi sampai sekarang prosesnya masih belum kunjung selesai. Perlu cukup banyak waktu untuk menyesuaikan taut-taut yang saling merujuk antar entri, juga katagorisasi untuk hampir 400 entri. Waduh!

Lagipula, saya juga mesti pikir-pikir dulu untuk melanjutkan blog itu. Sebagian besar entri di Refleksi berupa ulasan atau tutorial, dan saya tidak menginginkan blog itu menjadi blog berita (maka dari itu, untuk berita astronomi saya buatkan blog tersendiri). Sialnya, materi seperti tidak bisa ditulis secara asal-asalan, dan saya sudah menyerah untuk meluangkan waktu (baca: mencari waktu terluang) untuk menulis hal-hal yang kelewat serius. Belum lagi topik seputar IT yang cenderung tidak mampu mengikuti perkembangan. Setelah 7 tahun online, sebagian besar topik IT yang diulas disana sudah ketinggalan jaman. Walhasil Refleksi terpaksa dibiarkan terbengkalai dulu.

Sementara itu, entri buku tamu masih saja membanjir, dan membaca email dari pengunjung membuat saya kian merasa bersalah karena menelantarkan blog itu. Untungnya Refleksi tidak menyediakan fasilitas komentar. Kalau ada, mungkin hasilnya lebih buruk dari Info Astronomi, dimana banyak pengunjung yang marah-marah karena pertanyaannya lewat form komentar tidak segera dijawab, atau saya yang terpaksa menjawab komentar sambil marah-marah, somehow.

Sekian lama tidak diupdate, page rank Refleksi “terjun bebas” ke angka 3 (dari rekor tertinggi 5, yang pernah dicapai 1-2 tahun lalu). Blog ini beserta Info Astronomi masih anteng di angka 4, sementara tumblelog saya yang tadinya tidak mendapat rank sama sekali, kini melonjak ke angka 3. SEO anymore? Nggak lah. Blog-blog saya bukan situs komersil, dan saya harap sampai kapanpun tidak perlu dikomersilkan. Menulis blog bagi saya cuma untuk bersenang-senang, dan saya tidak ingin merusak kesenangan itu dengan harap-harap cemas menunggu perolehan iklan atau donasi pengunjung.

Nash

Posted in Figure by Dhani on the July 15th, 2008

Waktu menulis posting ini hampir setahun lalu, saya sudah membayangkan kalau tulisan semacam itu (seperti biasanya) bakalan sepi komentar, atau kalaupun ada yang berkomentar, palingan tidak jauh dari dosen dan mahasiswa. Rupanya dugaan saya tidak salah.

Tapi siapa Nash yang namanya sempat disebut-sebut dalam dalam tulisan itu?

Nama lengkapnya John Forbes Nash. Perjalanan hidup Matematikawan yang satu ini lumayan penuh warna. Pernah dinovelkan oleh Sylvia Nasar dengan judul “A Beautiful Mind” (terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Gramedia), dan diangkat ke layar lebar dengan judul sama (lagu soudtracknya dibawakan dengan bagus oleh Charlotte Church).

Saat berkuliah di Princenton University, ia sudah mulai tertarik mengkutak-katik Game Theory, yang dianggap bidang matematika yang paling seksi pada masa itu. Selain itu, ia juga terkenal dengan karyanya dalam matematika murni, dikenal sebagai Nash embedding theorem, dimana ia menunjukkan bahwa suatu abstraksi manifold Riemannian dapat secara isometrik dianggap sebagai submanifold dari ruang Euclidean. Ia juga berkontribusi terhadap teori nonliear persamaan diferensial parabola parsial. Pendeknya, dia orang yang jenius, titik.

Sayangnya batas antara kejeniusan dan kegilaan terkadang tipis sekali. Begitu pula pada Nash. Dikenal sebagai orang yang temperamental dan cenderung menutup diri, ia juga adalah tipikal orang yang lebih suka bekerja sendiri ketimbang dalam satu tim.

Adalah Medali Fields, lambang supremasi di bidang matematika yang menjadi incaran Nash. Sayang, keberuntungan nampaknya masih belum berpihak kepadanya. Pasalnya, penghargaan yang disebut-sebut sebagai Nobelnya matematika itu hanya dibagikan tiap empat tahun sekali dan yang berhak menerimanya adalah matematikawan yang usianya belum mencapai 40 tahun. Tujuannya, selain menghargai pencapaian di masa lalu, juga sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat untuk performa yang lebih baik di masa mendatang.

Gagal meraih pencapaian prestisius itu, Nash akhirnya patah semangat. Didera kekhawatiran atas kelangsungan masa depannya sebagai matematikawan, kewarasannya pun terganggu. Antara bulan April-Mei 1959, ia didiagnosa terkena schizophrenia paranoid, suatu bentuk gangguan kejiwaan serius.

Dirawat di rumah sakit jiwa hingga tahun 1970, somehow kejiwaannya akhirnya pulih. Nash mulai menata kembali hidupnya. Ia kembali ke dunia akademis sebagai matematikawan. Pada 1978, karyanya mengenai hukum kesetimbangan non-kooperatif — dikenal sebaga Hukum Kesetimbangan Nash (Nash Equilibria) — mengantarkan dirinya meraih penghargaan John Newman. Tahun 1994, penghargaan prestisius, Nobel Ekonomi akhirnya ia raih untuk karyanya dalam Game Theory.

Oh ya, ada satu cerita menarik lagi terkait Medali Fields. Tahun 2006 seorang matematikawan Rusia, Grigori Perelman, dinyatakan berhak menerima hadiah yang dahulu pernah diidam-idamkan Nash itu. Tapi berbeda dengan Nash, karena alasan idealis, hadiah itu malahan ditolaknya! Seorang teman pernah cerita tentang Perelman di blognya, dan saya menulis komentar singkat disana bahwa bagi orang-orang tertentu, itu bukan cerita yang inspiratif. Orang-orang macam apa? Yah, tahu sendirilah: para pengikut dari seorang “pakar investasi” gadungan yang juga merupakan pengarang buku nomor dua yang paling sering saya kritisi setelah si “pakar evolusi” yang juga gadungan itu (tapi herannya, pakar-pakar gadungan ternyata punya banyak pengikut disini).

Moral cerita: jangan ngoyo mengejar mimpi-mimpi indah kita. Fokus pada impian, boleh saja. Memotivasi diri, itu juga bagus. Tapi jangan biarkan semuanya itu sampai merusak kehidupan nyata kita. Dan apabila suatu ketika impian itu berhasil diraih, mudah-mudahan kita masih punya kearifan untuk menilai, apakah diri kita memang betul-betul pantas memperolehnya. Semoga cukup jelas, kepada siapa paragraf ini akan saya dedikasikan ;) .

Popularisasi Sains

Posted in Education, Science by Dhani on the June 29th, 2008

Pertanyaannya sekarang, apakah sains harus dijadikan semacam tontonan olahraga, dimana semua orang bisa menikmati pertandingan di lapangan tanpa harus berpayah-payah memeras keringat di tengah arena pertandingan?

Sains memang bukan sepakbola. Tapi kadang-kadang bisa jadi lebih buruk lagi. Kita sering jengkel melihat komentator di televisi yang bercuap-cuap tentang kesalahan yang dilakukan, baik pemain maupun pelatih tim yang berlaga di lapangan hijau. Mereka bicara sambil duduk nyaman di ruang studio ber-AC, sementara orang-orang yang dikritisi nyaris kehabisan napas mengejar bola di tengah lapangan yang terik. Tapi paling tidak sang komentator adalah orang yang punya kompetensi, bahkan mungkin cukup berpengalaman sebagai bintang di lapangan hijau. Sementara itu, komementator sains yang tidak pernah masuk laboratorium malahan bisa menulis berjilid-jilid buku biologi. Ajaib!

Bahkan buku-buku seperti yang ditulis Carl Sagan, atau Stephen Hawking sekalipun, bukanlah buku sains yang sesungguhnya. Buku-buku itu adalah bacaan sains yang telah dipopularisasi dengan menghilangkan bagian paling fundamental namun sekaligus paling dibenci khalayak pembaca awam: persamaan matematis.

Mungkin agak mengejutkan kalau sejumlah ilmuwan yang aktif dalam upaya popularisasi sains justeru beroleh pandangan negatif dari komunitas mereka sendiri. Sebagian ilmuwan menganggap buku maupun artikel sains populer sebagai bacaan yang menyesatkan. Dengan menghilangkan pemaparan secara matematis, pembaca hanya akan disodori hasil tanpa tahu bagaimana proses yang sesungguhnya. Akibatnya, pembaca merasa seolah-olah mengerti, padahal yang diketahui cuma sebatas “kulit” saja.

Di sisi lain, ilmuwan tidaklah hidup di menara gading. Adalah suatu kewajiban bagi mereka untuk menyebarkan disiplin yang ditekuninya kepada masyarakat awam. Bukankan riset mereka didanai antara lain dari pajak yang dibayar oleh masyarakat? Sudah selayaknya khalayak mengetahui apa saja yang telah dilakukan para ilmuwan dengan uang mereka. Disinilah letak dilemanya.

Tapi diluar itu, dunia sains juga sering dihebohkan dengan kehadiran para “badut” yang mendompleng kerja para ilmuwan. Aneh memang, melihat seseorang yang mungkin belum pernah sekalipun masuk ke laboratorium biologi, atau mungkin sekedar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rupa fosil yang sesungguhnya, tahu-tahu menulis buku tentang biologi evolusi, lengkap dengan bantahan-bantahan “meyakinkan” tentang kekeliruan suatu teori mainstream. Orang awam manggut-manggut mengiyakan, ilmuwan betulan malahan geleng-geleng kepala, prihatin.

Orang tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola yang baik hanya dengan duduk di kursi penonton. Orang tidak akan pernah jadi pakar astronomi atau fisika hanya dengan membaca Sagan atau Hawking. Dan seseorang tidak akan pernah mengerti soal pernak-pernik evolusi hanya dengan membaca Harun Yahya.

Boson Higgs

Posted in Science by Dhani on the June 16th, 2008

Mata para fisikawan teori sekarang sedang mengarah ke Swiss. Bukan, ini bukan soal sepakbola. Sebuah instrumen raksasa berjuluk Large Hadron Collider (LHC), yang terletak di dekat kota Jenewa, di perbatasan Swiss-Prancis, dalam waktu dekat ini akan dinyalakan, dan sebuah eksperimen bersejarah akan segera digelar.

Dalam Struktur berbentuk cincin dengan keliling 27 km yang terbenam 50 hingga 175 meter dibawah tanah, dua pancaran partikel subatomik ditembakkan ke arah yang berlawanan, dan saling bertumbukan satu sama lain dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Partikel-partikel itu akan memancarkan bunga api kecil dari energi primordial, menciptakan kembali keadaan saat alam semesta baru berusia kurang dari sepersetriliun detik. Tujuannya: menelisik keberadaan “partikel Dewa”, Boson Higgs yang hingga kini masih misterius.

Sebagai satu-satunya partikel dalam model standar fisika partikel yang belum pernah teramati, pemahaman terhadap boson Higgs akan menjelaskan bagaimana elemen partikel tak bermassa mampu membentuk massa pada materi. Massa partikel elementer, beserta perbedaan antara elektromagnetisme (yang disebabkan oleh foton) dan daya lemah (yang dibawa oleh boson W dan Z) adalah hal kritikal dalam banyak aspek dalam dunia mikroskopik (dan juga makroskopik), dan dengan demikian memiliki peran yang signifikan dalam dunia sekeliling kita.

Elektromagnetisme menjelaskan bagaimana partikel berinteraksi dengan foton. Dengan cara yang sama pula, gaya lemah menjelaskan bagaimana dua entitas, boson W dan Z, berinteraksi dengan elektron, quark, neutrino, dkk. Satu perbedaan penting diantara kedua interaksi tersebut: foton tidak memiliki massa sementara W dan Z memiliki massa sangat besar, bahkan merupakan partikel paling massif yang diketahui sejauh ini.

Kecenderungan awal adalah mengasumsikan bahwa W dan Z memang eksis dan berinteraksi dengan partikel elementer lainnya. Namun dengan alasan matematis, massa W dan Z yang demikian besar akan mengakibatkan inkonsistensi pada model standar. Jalan keluarnya: harus ada setidaknya satu partikel lain yang belum dikenal. Boson Higgs yang dipostulatkan oleh fisikawan Inggris, Peter Higgs pada 1964 (bersama-sama dengan François Englert and Robert Brout) sangat mungkin merupakan jawabannya.

Teori yang paling sederhana memprediksi hanya satu boson, namun teori lain menyatakan mungkin ada beberapa. Faktanya, pencarian terhadap partikel (atau partikel-partikel) ini merupakan salah satu riset paling menarik di jagat fisika partikel. Riset ini dapat membawa kepada penemuan yang betul-betul baru dalam disiplin ini. Sebagian fisikawan berspekulasi bahwa riset ini akan membuahkan interaksi kuat yang sepenuhnya baru, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menyingkap keberadaan simetri fisika fundamental, “supersimetri”.

Dalam pencarian boson Higgs, proton dan anti-proton berenergi sangat-sangat tinggi dilontarkan dan saling bertumbukan dalam kecepatan tinggi pula. Apabila energi dari tumbukan itu cukup besar, maka partikel itu akan terpecah menjadi potongan yang lebih fundamental, yang salah satunya mungkin adalah boson Higgs. Partikel ini akan eksis hanya selama sepersekian detik sebelum akhirnya meluruh menjadi partikel lain. Para periset harus mengais-ngais bukti keberadaan boson Higgs dari partikel-partikel yang dihasilkan.

Sedianya pencarian ini akan dilakukan pada akselerator SSC (Superconducting Supercolider) yang rencananya akan dibangun di Waxahachie, texas, AS, dengan biaya selangit: setara 20 triliun rupah. Proyek raksasa ini akhirnya dibatalkan oleh Senat AS pada 1993 setelah melalui perdebatan panjang selama bertahun-tahun. Harapan satu-satunya kini digantungkan pada tim Eropa dengan LHC-nya. Energi tumbukan yang dihasilkan pada LHC hanya sekitar 1/4 energi SSC, namun dengan biaya pembangunan hanya 1/5 biaya SSC, LHC merupakan pilihan yang lebih ekonomis.

Apakah boson Higgs nantinya bakal teramati? Kita tunggu saja pada “putaran final” di Jenewa beberapa waktu lagi :) .

Next Page »