Bianglala


Popularisasi Sains

Posted in Education, Science by Dhani on the June 29th, 2008

Pertanyaannya sekarang, apakah sains harus dijadikan semacam tontonan olahraga, dimana semua orang bisa menikmati pertandingan di lapangan tanpa harus berpayah-payah memeras keringat di tengah arena pertandingan?

Sains memang bukan sepakbola. Tapi kadang-kadang bisa jadi lebih buruk lagi. Kita sering jengkel melihat komentator di televisi yang bercuap-cuap tentang kesalahan pemain maupun pelatih yang berlaga di lapangan hijau. Mereka bicara sambil duduk nyaman di ruang studio ber-AC, sementara orang-orang yang mereka komentari nyaris kehabisan napas mengejar bola di lapangan yang terik. Tapi paling tidak si komentator adalah orang yang punya kompetensi, bahkan mungkin cukup berpengalaman sebagai bintang di lapangan hijau. Sementara itu, komementator sains yang tidak pernah masuk laboratorium malahan bisa menulis berjilid-jilid buku biologi. Ajaib!

Bahkan buku-buku seperti yang ditulis Carl Sagan, atau Stephen Hawking sekalipun, bukanlah buku sains yang sesungguhnya. Buku-buku itu adalah bacaan sains yang telah dipopularisasi dengan menghilangkan bagian paling fundamental namun sekaligus paling dibenci khalayak pembaca awam: persamaan matematis.

Mungkin agak mengejutkan kalau sejumlah ilmuwan yang aktif dalam usaha popularisasi sains justeru beroleh pandangan negatif dari komunitas mereka sendiri. Sebagian ilmuwan menganggap buku maupun artikel sains populer sebagai bacaan yang menyesatkan. Dengan menghilangkan pemaparan secara matematis, pembaca hanya akan disodori hasil tanpa tahu bagaimana proses yang sesungguhnya. Akibatnya, pembaca merasa seolah-olah mengerti, padahal yang diketahui cuma sebatas “kulit” saja.

Di sisi lain, ilmuwan tidaklah hidup di menara gading. Adalah suatu kewajiban bagi para ilmuwan untuk menyebarkan disiplin yang mereka tekuni kepada masyarakat awam. Bukankah riset mereka didanai antara lain dari pajak yang dibayar oleh masyarakat? Dengan demikian, sudah selayaknya khalayak mengetahui apa saja yang telah dilakukan para ilmuwan dengan uang mereka. Disinilah letak dilemanya.

Tapi diluar itu, dunia sains juga sering dihebohkan dengan kehadiran para “badut” yang mendompleng kerja para ilmuwan. Aneh memang, melihat seseorang yang mungkin belum pernah sekalipun masuk ke laboratorium biologi, atau mungkin sekedar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rupa fosil yang sesungguhnya, tahu-tahu menulis buku tentang biologi evolusi, lengkap dengan bantahan-bantahan “meyakinkan” tentang kekeliruan suatu teori mainstream. Orang awam manggut-manggut mengiyakan, ilmuwan betulan malahan geleng-geleng kepala, prihatin.

Orang tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola yang baik hanya dengan duduk di kursi penonton. Orang tidak akan pernah jadi pakar astronomi atau fisika hanya dengan membaca Sagan atau Hawking. Dan seseorang tidak akan pernah mengerti soal pernak-pernik evolusi hanya dengan membaca Harun Yahya.

Boson Higgs

Posted in Science by Dhani on the June 16th, 2008

Mata para fisikawan teori sekarang sedang mengarah ke Swiss. Bukan, ini bukan soal sepakbola. Sebuah instrumen raksasa berjuluk Large Hadron Collider (LHC), yang terletak di dekat kota Jenewa, di perbatasan Swiss-Prancis, dalam waktu dekat ini akan dinyalakan, dan sebuah eksperimen bersejarah akan segera digelar.

Dalam Struktur berbentuk cincin dengan keliling 27 km yang terbenam 50 hingga 175 meter dibawah tanah, dua pancaran partikel subatomik ditembakkan ke arah yang berlawanan, dan saling bertumbukan satu sama lain dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Partikel-partikel itu akan memancarkan bunga api kecil dari energi primordial, menciptakan kembali keadaan saat alam semesta baru berusia kurang dari sepersetriliun detik. Tujuannya: menelisik keberadaan “partikel Dewa”, Boson Higgs yang hingga kini masih misterius.

Sebagai satu-satunya partikel dalam model standar fisika partikel yang belum pernah teramati, pemahaman terhadap boson Higgs akan menjelaskan bagaimana elemen partikel tak bermassa mampu membentuk massa pada materi. Massa partikel elementer, beserta perbedaan antara elektromagnetisme (yang disebabkan oleh foton) dan daya lemah (yang dibawa oleh boson W dan Z) adalah hal kritikal dalam banyak aspek dalam dunia mikroskopik (dan juga makroskopik), dan dengan demikian memiliki peran yang signifikan dalam dunia sekeliling kita.

Elektromagnetisme menjelaskan bagaimana partikel berinteraksi dengan foton. Dengan cara yang sama pula, gaya lemah menjelaskan bagaimana dua entitas, boson W dan Z, berinteraksi dengan elektron, quark, neutrino, dkk. Satu perbedaan penting diantara kedua interaksi tersebut: foton tidak memiliki massa sementara W dan Z memiliki massa sangat besar, bahkan merupakan partikel paling massif yang diketahui sejauh ini.

Kecenderungan awal adalah mengasumsikan bahwa W dan Z memang eksis dan berinteraksi dengan partikel elementer lainnya. Namun dengan alasan matematis, massa W dan Z yang demikian besar akan mengakibatkan inkonsistensi pada model standar. Jalan keluarnya: harus ada setidaknya satu partikel lain yang belum dikenal. Boson Higgs yang dipostulatkan oleh fisikawan Inggris, Peter Higgs pada 1964 (bersama-sama dengan François Englert and Robert Brout) sangat mungkin merupakan jawabannya.

Teori yang paling sederhana memprediksi hanya satu boson, namun teori lain menyatakan mungkin ada beberapa. Faktanya, pencarian terhadap partikel (atau partikel-partikel) ini merupakan salah satu riset paling menarik di jagat fisika partikel. Riset ini dapat membawa kepada penemuan yang betul-betul baru dalam disiplin ini. Sebagian fisikawan berspekulasi bahwa riset ini akan membuahkan interaksi kuat yang sepenuhnya baru, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menyingkap keberadaan simetri fisika fundamental, “supersimetri”.

Dalam pencarian boson Higgs, proton dan anti-proton berenergi sangat-sangat tinggi dilontarkan dan saling bertumbukan dalam kecepatan tinggi pula. Apabila energi dari tumbukan itu cukup besar, maka partikel itu akan terpecah menjadi potongan yang lebih fundamental, yang salah satunya mungkin adalah boson Higgs. Partikel ini akan eksis hanya selama sepersekian detik sebelum akhirnya meluruh menjadi partikel lain. Para periset harus mengais-ngais bukti keberadaan boson Higgs dari partikel-partikel yang dihasilkan.

Sedianya pencarian ini akan dilakukan pada akselerator SSC (Superconducting Supercolider) yang rencananya akan dibangun di Waxahachie, texas, AS, dengan biaya selangit: setara 20 triliun rupah. Proyek raksasa ini akhirnya dibatalkan oleh Senat AS pada 1993 setelah melalui perdebatan panjang selama bertahun-tahun. Harapan satu-satunya kini digantungkan pada tim Eropa dengan LHC-nya. Energi tumbukan yang dihasilkan pada LHC hanya sekitar 1/4 energi SSC, namun dengan biaya pembangunan hanya 1/5 biaya SSC, LHC merupakan pilihan yang lebih ekonomis.

Apakah boson Higgs nantinya bakal teramati? Kita tunggu saja pada “putaran final” di Jenewa beberapa waktu lagi :).

Boy Soprano dan Boys’ Choir

Posted in Art by Dhani on the May 26th, 2008

Ini tradisi kuno kebanggaan Eropa yang masih bertahan hingga kini. Bagi sebagian besar orang, boys’ choir sering diidentikkan dengan kegiatan peribadatan di gereja. Karena itu, tidak aneh kalau saban saya memutar CD dari Vienna Boys’ Choir misalnya, selalu saja ada yang salah paham lantas menegur saya. Tergantung siapa yang menegur, maka saya biasanya memilih salah satu, atau sekaligus dua jawaban berikut: (1) Itu bukan lagu gereja, cuma lagu anak-anak atau lagu tradisional dari negara-negara Eropa, entah Prancis, Jerman, Skot atau whatever. (2) kalau lagu gereja memangnya kenapa?

Tradisi boys’ choir memang dimulai dari lingkungan gereja abad pertengahan di Eropa. Saat itu, perempuan masih belum dibenarkan untuk menyanyikan liturgi (lagu pujian) dalam peribadatan di gereja. Untuk menggantikan fungsi suara sopran perempuan, dipilihlah anak-anak laki-laki yang suaranya belum “pecah”. Secara individual, mereka disebut sebagai boy soprano (istilah lainnya adalah treble soloist), sementara apabila mereka menyanyi bersama dalam sebuah koor, istilahnya adalah boys’ choir.

Kebiasaan ini kemudian juga ditiru oleh Yahudi ortodoks. Karena doktrin mereka mengharamkan kaum laki-laki untuk mendengar suara perempuan menyanyi, maka boy soprano dijadikan alternatif untuk membawakan nyanyian yg memerlukan suara sopran. Walaupun tidak banyak dikenal, ada juga sejumlah kelompok boys’ choir yang berangkat dari tradisi Yahudi, salah satunya adalah kelompok Yeshiva Boys’ Choir.

Belakangan, boy soprano juga dilibatkan dalam karya-karya non-liturgi, alias sekular. Karya semacam Carmina Burana dari Carl Orff misalnya, juga menyertakan beberapa bagian yang dibawakan oleh boys choir. Sejumlah opera, seperti Bastien und Bastienne karya Mozart, juga lazim dibawakan oleh boy soprano. Sebagai catatan, Mozart sendiri semasa kecilnya juga pernah menjadi anggota Vienna Boys’ Choir, yang merupakan kelompok boys’ choir terpopuler hingga kini.

Saat ini tradisi boys choir di Eropa terbagi dua, antara kelompok choir religius dan sekular. Kelompok semacam Vienna Boys’ Choir, yang beberapa kali pernah saya tulis disini, tergolong kelompok choir sekular, dalam artian tidak bernaung dibawah gereja maupun kelompok keagamaan tertentu – walaupun di Indonesia mereka mungkin lebih dikenal melalui CD lagu-lagu natal.

Di masa lampau, para boy soprano yang suaranya dianggap bagus sering “dipaksa” untuk mempertahankan karakter suaranya itu. Yang mengerikan, seringkali anak-anak ini (maaf) dikebiri sebelum memasuki masa akil balig. Prosesnya sangat beresiko. Kebanyakan anak akan meninggal tidak lama setelahnya, umumnya karena infeksi berat. Tapi yang selamat, akan jadi penyanyi idola baru, tidak kalah dengan bintang rock jaman sekarang (istilah untuk penyanyi semacam ini adalah castrato).

Tapi syukurlah, sejak akhir abad ke-18 praktek seperti ini tidak lagi dilakukan. Sebagai gantinya, laki-laki yang sudah akil balig dengan latihan dan teknik khusus masih bisa menyanyi dengan suara sopran.

Dahulu anak laki-laki umumnya bisa tetap menyanyi dengan suara sopran secara natural sampai usia 16-17 tahun. Komponis Johann Sabastian Bach misalnya, tercatat pernah menjadi boy soprano sampai menjelang usia 16 tahun. Tapi di jaman sekarang, suara anak laki-laki biasanya sudah pecah di usia 13-14 tahun. Anak-anak sekarang cenderung lebih cepat memasuki masa akil balig ketimbang dulu. Karena itu, kelompok seperti Vienna Boys’ Choir hanya mempertahankan anggotanya hingga mencapai usia 14 tahun atau sampai suaranya berubah (tergantung mana yang duluan). Kelompok lainnya, seperti Libera, masih menyertakan beberapa anak berusia 16 tahunan untuk mengisi suara alto.

Di era Perang Dunia II, tradisi boys’ choir di Eropa, terutama di negara-negara berbahasa Jerman pernah dimanfaatkan oleh Hitler sebagai salah satu alat propaganda NAZI . Dalam beberapa film propaganda NAZI, sering muncul adegan anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu patriotik berbahasa Jerman. Sejarah mencatat, direktur Vienna Boys Choir di masa itu, Josef Schnitt, sempat dipenjara oleh NAZI karena menolak kelompok choir asuhannya dilibatkan dalam propaganda mereka.

Sebagai sebuah tradisi yang sudah berjalan berabad-abad, sejumlah kelompok boys’ choir di Eropa terlah berusia sangat lanjut. Kelompok Vienna Boys’ Choir telah bernyanyi selama 500 tahun lebih. Cukup lama, namun itu baru setengah dari usia kelompok Regensburger Domspatzen asal kota Regensburg, Jerman, yang telah melampaui bilangan 1000 tahun! (bandingkan dengan boysband jaman sekarang yang hanya beberapa tahun mencapai popularitas dan lantas dilupakan orang).

Hingga kini, direktori online boys soloist telah mencatat lebih dari 700 boys’ choir dari seluruh dunia. Indonesia sendiri, sejauh yang saya tahu tidak punya kelopok boys’ choir resmi, kecuali mungkin paduan suara gereja. Tapi kita punya Paduan Suara Anak Indonesia (PSAI), yang cukup dikenal secara Internasional. Kelompok paduan suara yang dipimpin oleh Aida Swenson Simandjuntak (putri Alfred Simanjuntak, pencipta lagu Bangun “Pemudi-Pemuda”) ini telah memenangkan berbagai perlombaan internasional dan memenuhi undangan dari beberapa negara, seperti Jerman, Polandia, Amerika dan Jepang.

PSAI beranggotakan anak laki-laki dan perempuan (mayoritas anak perempuan) mulai usia SD hingga 19 tahun. Waktu terakhir kali kelopok Vienna Boys’ Choir tampil di Indonesia, sekitar tahun 1996, kedua kelompok ini sempat tampil bersama-sama. Saya menyesal tidak sempat menyaksikan konser mereka. Menurut teman-teman yang ikut menonton, kolaborasi mereka cukup unik, karena kelompok Vienna Boys’ Choir yg seluruhnya laki-laki suaranya cukup bervibrasi sementara PSAI yg anggotanya kebanyakan perempuan suaranya umumnya relatif datar. Waktu itu mereka membawakan beberapa lagu daerah Indonesia (Sudah menjadi tradisi bagi Vienna Boys’ Choir untuk membawakan lagu tradisional negara yang disinggahinya).

Kalau kelompok Vienna Boys’ Choir terkenal dengan seragam ala pelaut, sementara Libera dengan kostum seperti biarawan, maka PSAI memiliki “seragam” khas, yakni pakaian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Mayday!

Posted in Science, Techno by Dhani on the May 13th, 2008

Beberapa waktu lalu saya sempat menonton tayangan dokumenter di saluran National Geographics mengenai investigasi musibah jatuhnya pesawat Silk Air 185 Rute Jakarta-Singapura di Sungai Musi, Palembang, 19 Desember 1997. Yang menarik bagi saya, kelihatannya ada kemiripan antara kasus Silk Air 185 dengan Adam Air 574 PK-KKW yang hilang di laut Majene awal tahun lalu. Kalau kita baca laporan investigasi KNKT terhadap peristiwa itu, jelas pesawat telah jatuh menghujam ke arah laut dengan kecepatan tinggi, mirip seperti yang dialami oleh Silk Air 185.

Laporan KNKT sendiri menyebutkan bahwa musibah Adam 574 terjadi karena terpecahnya perhatian pilot yang terkonsentrasi pada upaya memperbaiki kerusakan pada instrumen Innertial Reference System (ILS) sehingga tidak menyadari bahwa autopilot telah disengaged. Akibatnya pesawat miring secara perlahan, dan akhirnya mencapai suatu titik dimana pesawat menjadi tak terkendali dan mengalami kerusakan struktur.

Tapi alih-alih menimpakan kesalahan sepenuhnya pada kelalaian pilot, kita perlu juga melihat sisi lain dari peristiwa nahas ini. Untungnya kecelakaan pesawat umumnya terdokumentasi dengan baik, sehingga dari satu peristiwa kita seharusnya bisa menarik pelajaran dari sana.

Dalam kasus Silk Air 185 penyelidikan terhadap CVR dan FDR tidak memberikan data yang berarti, karena kedua instrumen tersebut secara misterius mati (dimatikan?) beberapa menit sebelum pesawat celaka. Hal ini mengarah ke dugaan aksi bunuh diri oleh sang pilot. Hasil investigasi KNKT sendiri tidak mencantumkan penyebab pasti kecelakaan tersebut.

Tapi sebagian orang punya pendapat lain. Berkaca dari kasus-kasus yang melibatkan pesawat sejenis (dalam hal ini Boeing 737), maka ada dugaan bahwa musibah Silk Air ini terjadi akibat apa yang dikenal sebagai “rudder hardover”. Ringkasnya, ini adalah kejadian bilamana perangkat Rudder Power Control Unit (PCU) yang berfungsi menyalurkan minyak hidrolik bertekanan tinggi ke kemudi rudder (sirip ekor) mengalami kemacetan. Apabila hal ini terjadi, maka rudder akan bergerak maksimal kekiri sehingga pesawat berguling cepat kekanan, dan kemudian akan menghujam kebawah.

Wikipedia mencatat beberapa kecelakaan yang menyangkut rudder pada pesawat jenis Boeing 737, diantaranya adalah United Airlines 585 di Colorado (3 Maret 1991), USAir 427 di Pittsburgh (8 September 1994), dan Eastwind Airlines 517 (9 Juni 1996). Yang terakhir ini, untungnya, tidak berakhir fatal karena pilot berhasil menyelamatkan pesawat dengan bertindak tepat sesuai arahan Flight Manual.

Peristiwa jatuhnya Adam 574 sendiri sepintas sangat mirip dengan insiden-insiden lain yang melibatkan rudder hardover. Kalau kita lihat pola pergerakan pesawat selama 130 detik terakhir yang terekam oleh FDR (ada di halaman 42 pada laporan KNKT), nampak tidak jauh berbeda dengan pola jatuhnya pesawat akibat rudder hardover (terjadi bank angle yang diikuti gerakan menghujam ke bawah). Sepintas dugaan terjadinya rudder hardover cukup masuk akal.

Tapi di pihak lain, kalau kita perhatikan lebih teliti, grafik itu justeru tidak merekam pergerakan rudder yang terlalu mencolok. Tambahan lagi, rudder hardover tidak biasanya terjadi saat pesawat cruising, melainkan umumnya pada saat descent atau approach, dengan pola pergerakan pesawat yang sedikit berbeda dengan yang terekam pada FDR Adam 574. Dugaan ini juga makin sulit dibuktikan akibat sedikitnya serpihan Adam 574 yang berhasil ditemukan. Peristiwa rudder hard over baru bisa dibuktikan apabila ditemui perubahan temperatur yang cukup besar yang ditandai dengan masukan cairan hidrolik yang cukup kotor ke rudder PCU. So, seperti halnya kasus Silk Air 185, musibah Adam 574 juga masih belum bisa dipastikan terjadi akibat masalah pada rudder.

Tapi sebagai catatan saja, para operator pesawat seri Boeing 737 telah diwajibkan untuk mengganti perangkat Rudder PCU yang cacat dengan batas waktu hingga tanggal 12 November 2008 (rudder hardover pada B737 sendiri ditengarai terjadi karena cacat bawaan pada Rudder PCU yang dibuat oleh perusahaan Parker Hannifin).

Ada satu pertanyaan lagi, setelah auto pilot disengaged, kenapa pilot tidak menyadari kemiringan pesawat?

Penyebabnya kemungkinan besar karena pilot mengalami spatial disorientation, kehilangan persepsi terhadap arah akibat ketiadaan referensi visual seperti horison atau tanda-tanda alamiah lainnya. Hal ini juga diduga menjadi salah satu penyebab musibah Flash Air 604 di Mesir tahun 2004 lalu (investigasinya juga pernah ditayangkan di National Geographic Channel).

Sekarang pertanyaan kuncinya, bagaimana dengan para penumpang Adam 574 — yang jasadnya tidak pernah ditemukan hingga sekarang? Sedihnya, nasib mereka kelihatannya tidak berbeda jauh dengan penumpang Silk Air 185. Impact di air sebenarnya jauh lebih mematikan daripada di darat (itu sebabnya kenapa olahraga Power Boating jauh lebih berbahaya ketimbang balap mobil Formula 1). Dalam kasus Silk Air 185, potongan tubuh terbesar yang berhasil ditemukan adalah cabikan kulit punggung yang diidentifikasi berasal dari seorang anak kecil berusia 9 tahun berkebangsaan Jerman… :(

Chernobyl

Posted in Science by Dhani on the April 26th, 2008

26 April. Tepat 22 tahun berlalu sejak musibah meledaknya reaktor PLTN Chernobyl, Ukraina. Sebuah kecelakaan nuklir terburuk dan paling fatal dalam sejarah. Ketikkan “Chernobyl” pada pencarian Google. Sudah, saya tidak perlu lagi bercerita tentang peristiwa itu. Sekarang persoalannya, amankah reaktor nuklir kalau dibangun di Indonesia?

Jangan paranoid dulu dong! Musibah Chernobyl bukan terjadi begitu saja, melainkan lewat serangkaian kombinasi berbagai penyebab. Peristiwa sial itu berawal dari eksperimen yang dilakukan secara sangat sembrono, dengan tidak kurang dari 5 kesalahan fatal, dan dua kali pengambilan keputusan yang keliru. Plus kemacetan tuas kendali darurat, tepat pada saat petugas berusaha mematikan reaktor. Kombinasi sempurna untuk pembuka petaka. (Pelajaran moral pertama: satu bencana besar diawali oleh serentetan kesalahan fatal. Jangan mengambil kesimpulan hanya dari melihat produk akhir).

Lantas, kenapa harus nuklir? Jawabannya gampang ditebak. Persediaan bahan bakar fosil, minyak bumi dan batubara, terus menipis, sementara harga minyak terus meroket. Energi terbarukan nampaknya masih belum memenuhi skala ekonomis. Energi matahari misalnya, hanya bisa dipakai dalam skala kecil. PLTA sudah dipakai beberapa lama, tapi kalau kita dilanda kemarau panjang, lantas debit air turun, malahan tekor; energi geotermal (panas bumi) bakal bertabrakan dg persoalan lingkungan.

Lihat saja propinsi Bali. Tidak punya cadangan bahan bakar fosil, baik dalam bentuk minyak maupun batubara. Tidak pula air terjun besar, atau sungai besar yang alirannya bisa dibendung untuk memutar turbin. Satu-satunya sumber energi yang tersedia, geotermal, sepertinya tidak akan bisa dimanfaatkan karena alasan adat dan kelestarian lingkungan. Lantas bagaimana dong?

Biofuel? Yang benar saja. Sudah tahu tidak kalau harga minyak goreng sekarang ikut-ikutan melambung? Itu akibatnya kalau bahan yang sedianya sebagai produk pangan malahan dialih fungsikan sebagai bahan bakar.

Hingga saat ini, energi nuklir masih merupakan alternatif yang relatif “murah” dan efisien. Sebagai bayangan, kalau pembakaran 1 kg batubara berkualitas baik cuma menghasilkan energi panas sekitar 7,2 kilo-kalori, maka energi fisi yg dibebaskan 1 kg uranium bisa mencapai 19 x 109 kilo-kalori.

Yang jadi soal, kita sudah terlanjur terperangkap pada anggapan bahwa nuklir (keluarga uranium) termasuk barang berbahaya. Anggapan ini tidak salah, hanya saja perlu diingat bahwa pemanfaatan nuklir untuk membuat, katakanlah, bom atom dengan untuk pembangkit tenaga listrik jelas berbeda. Bom atom memerlukan uranium dengan kemurnian hingga diatas 90%, sementara untuk PLTN, tidak sampai 30%. Kalau ditangani dengan benar relatif tidak berbahaya. Yang berbahaya itu jika terjadi kelalaian sehingga mengakibatkan reaksi tak terkendali seperti kasus Chernobyl barusan. (Pelajaran moral kedua: Walaupun sama-sama nuklir, PLTN tidak sama dengan bom atom)

Lagu lama yang selalu diputar ulang dalam wacana pernukliran di Indonesia adalah soal Sumber Daya Manusia, baik dalam tahapan konstruksi reaktor hingga operasionalnya kelak. Akankan SDM Indonesia mampu membangun mengoperasikan sebuah PLTN secara aman?

Dari segi konstruksi, pembangunan Fasilitas Nuklir (dalam hal ini PLTN) selalu dilakukan dibawah pengawasan Internasional yang sangat ketat. Standarnya sudah baku dan tidak bisa ditawar. Sekiranya Indonesia jadi membangun PLTN, maka yang akan membangun reaktornya bukan kita sendiri, melainkan perusahaan asing yang spesialisasinya memang dalam konstruksi reaktor nuklir. Analoginya seperti pembangunan landas pacu pada bandar udara. Apa pernah kita mendengar tentang pesawat yang tergelincir karena kesalahan konstruksi landasan pacu?

Tentang PLTN itu sendiri ada berbagai macam jenisnya. Sedikit bicara teknis, dari sisi keamanan misalnya, ada reaktor yang memiliki koefiesen reaktivitas positif (+) dan ada yang memiliki koefisien reaktivitas negatif (-). Yang (+) berarti, bila daya naik, reaktivitasnya juga akan ikut naik. Yang (-) berarti bila daya naik, reaktivitasnya akan turun.

Reaktivitas sendiri adalah semacam ukuran jumlah neutron yang dihasilkan dalam reaktor tersebut. Kita tahu, reaksi berantai dalam reaktor bersumber pada neutron yang dihasilkan dari reaksi fisi sebelumnya. Bila jumlah neutron yang dihasilkan pada periode sekarang (t+1) lebih banyak dari periode sebelumnya (t), maka dikatakan reaktivitasnya positif, dan karenanya bisa memicu lebih banyak reaksi fisi, dan otomatis akan meningkatkan daya (panas) reaktor. Hal yang berkebalikan terjadi pada reaktivitas (-).

Nah, kembali ke koefisien reaktivitas. Reaktor Chernobyl adalah reaktor yang memiliki koefisien reaktivitas (+), dimana apabila terjadi kenaikan daya (panas) pada reaktor, maka hal ini akan meningkatkan produksi neutron pada reaktor itu. Jadi, Semacam lingkaran setan, hal yang satu akan meningkatkan yang lain. Neutron banyak akan meningkatkan panas; panas banyak semakin meningkatkan produksi neutron. Dengan kata lain, kehilangan pendingin justeru akan menyebabkan kenaikan daya.

So, kalau tidak kepingin kasus Chernobyl terulang, kita dapat memilih tipe reaktor yang inherent safety (memiliki koefisien reaktivitas (-) salah satunya). Lantas, perlu diingat juga bahwa sistem pengamanan sekarang tentu saja sudah lebih canggih ketimbang dua dekade lalu. Pada reaktor modern, apabila terjadi kelebihan daya (seperti yang memicu musibah Chernobyl), maka reaktor akan shutdown secara otomatis.

Tapi bagaimana dengan SDM yang akan mengoperasikannya? Ya, memang banyak yang mesti diperbaiki dari etos kerja bangsa kita. Tapi secara logika saja, para operator di PLTN adalah manusia juga; punya keluarga yang menyayangi dan disayangi, dan tentu saja tidak kepingin mati muda karena radiasi. Secara pribadi, saya masih optimis bahwa diantara 220 juta penduduk negeri ini, masih ada sekian manusia lurus, dengan dedikasi tinggi, dan pikiran waras, yang mampu mengelola PLTN. (Pelajaran moral ketiga: jangan terlalu sering baca koran, atau Anda akan selalu berpikiran skeptik terhadap bangsa sendiri).

Indonesia, suatu saat nanti, cepat atau lambat, suka atau tidak suka harus mulai melangkah ke penggunaan tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif. Saya setuju kalau kendala pengoperasian PLTN di Indonesia bukan soal teknologi tapi SDM. Cuma, kalau melihat perkembangan sekarang, saya khawatir kita memang tidak punya banyak pilihan lagi.

Obituari …

Posted in Figure, Life by Dhani on the April 14th, 2008

Inna lilaahi wa inna ilaihi roji’uun. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Pak Rachmat Widodo Adi, dosen Fisika UI dan salah seorang pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), pada Minggu 13 April lalu.

Beberapa tahun lalu, saya sempat terlibat dalam serangkaian diskusi lewat media email dengan beliau. Posting ini adalah salah satu hasil diskusi tersebut (email yang saya kutip di sana adalah tulisannya). Masih teringat juga oleh saya, ketika beliau begitu gigih meladeni berbagai kritikan terhadap TOFI, yang diskusinya sempat saya rangkum di sini (kutipan di akhir posting tersebut berasal dari beliau).

Kabar kepulangannya cukup mengejutkan, mengingat baru beberapa hari lalu saya melihat posting-posting beliau bermunculan kembali di milis Fisika Indonesia. Komunitas sains Indonesia kembali kehilangan seorang putra terbaiknya. Selamat jalan pak Rachmat!

Sejarah Singkat dari Masa Depan

Posted in Book, Techno by Dhani on the April 7th, 2008

Buku ini, Sejarah Singkat dari Masa Depan (Edisi Inggris: A Brief History of the Future), boleh dibilang merupakan bagian dari usaha sang penulis, John Naughton, sebagai akademisi dan juga praktisi, dalam menjelaskan kepada kalangan awam tentang apa itu internet, dan bagaimana ia berkembang hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Tapi buku ini bukan sekedar buku sejarah, melainkan juga cerminan antusiasme penulisnya pada teknologi. Di bab-bab awal, Naughton banyak memberikan sentuhan pribadi: dimulai dari minatnya terhadap komunikasi radio di masa kecilnya di pedalaman Irlandia, ketika komunikasi dengan dunia luar nan jauh adalah suatu kemewahan. Dari sini kisahnya bergulir dengan asyik; pembaca mulai diajak menelusuri asal muasal pemanfaatan komputer, mulai dari era ENIAC hingga era Linux, mulai dari ARPAnet hingga World Wide Web. Semuanya ditulis dengan jernih dan kaya akan detail.

Internet, menurut Naughton, adalah salah satu mahakarya terbesar dari abad 20, namun siapa-siapa saja yang terlibat dalam pengembangannya saat ini nyaris terlupakan. Naughton merunutnya mulai dari kampus MIT di era 1930-an, dimana benih gagasan tentang web mulai disemaikan oleh Vannavar Bush, Norbert Weiner, dan J.C.R Licklieder, hingga gagasan tentang teknologi packet switching oleh Paul Baran serta TCP/IP oleh Vinton Cerf, yang kesemuanya ini memberi kontribusi teramat besar atas internet dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

Selanjutnya, di bab-bab akhir, Naughton mengeksplorasi etos kerja gerakan open source yang bertumbuh di kalangan para programmer yang bekerja dalam jaringan internet, serta world wide web rintisan Tim Berners-Lee yang kelak memegang peranan kunci dalam popularisasi internet di luar kalangan akademisi.

Sebagai buku sejarah teknologi, buku ini memberikan porsi yang seimbang antara ulasan tentang isu-isu teknis seputar perkembangan sains komputer dan aspek-aspek sosial dari teknologi yang relatif baru ini. Taruhlah soal ekses negatif dari pemanfaatan internet: merebaknya situs-situs asusila, maupun penyebar kebencian dan permusuhan. Juga soal sensor dan pakar gadungan. Semua itu bukanlah hal baru dalam sejarah internet, namun buku ini setidaknya bisa memberi perspektif lain terhadap hal-hal tersebut.

Untuk pembaca yang tidak terlalu akrab dengan teknologi, Naughton tidak segan-segan menjelaskan hal-hal teknis yang rumit, semacam teknologi packet switching dan TCP/IP, melalui metafora yang gampang dipahami. Juga tersedia glosari bagi yang tidak terbiasa dengan terminologi teknis.

Waktu buku ini pertama kali ditulis, sekitar akhir 1990-an, istilah blog belum seberapa dikenal. Begitu pula Google, Wikipedia, atau Youtube. Hal ini mungkin menyebabkan pembaca yang baru mengenal internet beberapa tahun belakangan akan menganggap buku ini sedikit “ketinggalan jaman”. Namun di sisi lain hal ini turut memberikan gambaran, bagaimana internet hingga kini terus berkembang dengan dinamis dalam kecepatan yang mengagumkan.

Secara umum, buku ini adalah salah satu referensi paling komplit tentang sejarah internet yang pernah saya baca. Hanya saja, satu hal yang saya sayangkan adalah kualitas terjemahan dalam bahasa Indonesia yang kurang bagus. Saya belum pernah membaca buku ini dalam edisi bahasa Inggris, tetapi membaca beberapa kalimat dalam buku ini memberi kesan kalau kalimat-kalimat tersebut diterjemahkan secara tidak semestinya. Juga, saya tidak menemukan nomor ISBN dari buku ini, yang membuat saya ragu mengenai keabsahan edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Interaksara, Batam, ini.

Next Page »